Inspirasi Wirausaha Muslim

Di blog ini, penulis mengajak sesama Muslim untuk saling berbagi, menginspirasi dan menyemangati dalam meraih cita-cita terutama di bidang wirausaha membangun perekonomian yang sesuai dengan syariat.
Menu
Go! Muslimpreneur

Bukan Sekedar Analisa Pasar


Di bangku perkuliahan dulu, saya mengenal ilmu marketing hanya sebatas teori. Ingin rasanya mengaplikasikan ilmu yang sudah saya dapat, tapi belum pernah benar-benar berhasil. Di tahun  ketiga kuliah saya mencoba mengawali usaha riil saya untuk menjalankan usaha sendiri dengan menjual kerudung, makanan ringan dan buku. Saya lebih fokus mempromosikan aneka kerudung. Waktu itu saya hanya memberikan berbagai pilihan motif. Saya dan 2 orang teman saling menanamkan modal. Saya pun melobi ibu saya agar beliau mau menanamkan modalnya. Jadilah usaha saya di launching dengan brand ‘Lazuardi’.


Beberapa orang teman membeli, memesan dan menawarkan lagi ke temannya. Saya dengan semangat ’45 mempromosikan barang dagangan saya ke teman-teman di luar kampus, ke keluarga, sampai saya menghubungi para distributor dari sebuah mini magazine. Saya senang  dengan respon mereka, padahal waktu itu rasanya belum marak apa yang sekarang dikenal sebagai ‘penjualan jarak jauh’.  Saya hanya menghubungi mereka via SMS, saya menawarkan kerudung dengan beraneka motif tanpa mengirimkan foto atau apapun, tapi saya berjanji akan langsung mengirimkan barangnya kepada mereka jika mereka bersedia untuk menjual. Alhamdulillah beberapa di antara mereka merespon dengan sangat baik. Saya terkesan dengan mereka.

Sekedar berbagi, saya juga salut pada mereka, karena mereka adalah distributor mini magazine yang mungkin tidak populer di kalangan anak muda. Mini magazine yang saya maksud adalah “Open Mind”, sebuah majalah sederhana yang disusun oleh anak-anak mantan punk yang telah mendedikasikan dirinya demi dakwah Islam.  Sekarang saya lihat ada yang serupa juga, yaitu zine yang dikeluarkan oleh Underground Tauhid.

Rekan-rekan saya ini ada yang tinggal di Aceh, Kalimantan, Malang, Makassar, Semarang dan Sumedang. Dan kami belum pernah bertemu muka sebelumnya. Tapi saya percaya kepada mereka. Singkat cerita saya mengirimkan barang-barang dagangan saya kepada mereka dan Alhamdulillah mereka membayar dengan penuh. Sebagian ada yang mengembalikan barang yang tidak laku untuk ditukar. Sebagian langsung  memesan kembali dengan merinci produk-produk yang mereka perlukan hanya dengan uraian kata lewat SMS. Ternyata mereka juga percaya kepada saya. Salah seorang dari mereka, yaitu yang tinggal di Kalimantan mengatakan barang saya ini harganya boleh dibilang murah karena di Kalimantan tidak mudah menemukan aneka kerudung, mereka terbiasa membeli bahan kain meteran untuk kemudian dineci sendiri. Saya senang, harusnya ini bisa menjadi peluang bagi saya.

Tapi, kenyataan berkata lain. Saya terus mengirimkan barang ke rekan-rekan lain tanpa meminta mereka untuk mengirim pembayarannya. Sementara saya membeli barang-barang itu dengan tunai. Modal menipis dan keuntungan tidak besar. Belum lagi ongkos kirim waktu itu saya tanggung sendiri. Saya kebingungan sendiri, kedua orang teman saya disibukkan oleh perkuliahan dan aktivitas kampus lain. Saya sedih sekali ketika harus menerima kenyataan saya dalam waktu dekat akan mengalami gulung tikar. Saya merasa sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menganalisa pasar. Saya yakin belum banyak orang di kala itu yang memutuskan untuk melakukan penjualan jarak jauh, tanpa pernah sebelumnya saling mengenal antara penjual dan pembeli.  Tapi tidak apa, barang-barang yang masih tersisa sudah dibagi-bagikan :)

Setelah itu saya belum terpikir untuk memulai usaha baru. Sampai akhirnya saya bersama seorang kawan dan keluarganya tertarik untuk menjalankan usaha, yaitu memproduksi donat. Waktu itu dengan keterbatasan dana hasil menyisihkan gaji sebagai staff pengajar honorer, saya menjadi pemodal utamanya. Hari ujicoba berjalan lancar. Sampai hari perdana produksi semua lancar. Yang berperan sebagai seller adalah kakak ipar dari kawan saya, sehari-hari ia menawarkan barang keperluan rumah tangga ke warung-warung, kami sepakat dengan kemampuan seperti ini kakak ipar kawan saya ini akan mampu merayu pemilik warung untuk turut pula menjual donat kami. Tapi ternyata perhitungan kami meleset.  Tidak satu pun donat kami laku terjual.

Untuk ukuran seorang pekerja part time seperti saya, yang honornya tidaklah seberapa, rasanya sakit sekali. Tapi itu sudah berlalu dan donat-donat itu sudah habis dibagi-bagikan….

Setelah itu saya hanya menjadi penjual produk kesehatan dengan sistem member get member dan aksesoris wanita. Tapi bisa dibilang belum juga berhasil.

Kemudian saya berpikir untuk membuat sebuah website yang akan saya jadikan wadah promosi dari beberapa produk. Istilahnya one stop shopping. Ada buku, aksesoris, kerudung, pakaian Muslim/ah, mainan edukasi, distro clothing dll. Sudah sibuk mencari informasi tentang dunia website, tapi belum kesampaian.

Akhirnya berjodoh dengan seorang wirausahawan…

Di awal pernikahan saya baru bisa membantu usaha suami di bagian keuangan dan administrasi. Saking padatnya rasanya tidak ada waktu untuk menggapai impian saya memiliki usaha sendiri. Sampai kemudian datang waktu luang di mana saya diberi kemudahan untuk membangun impian saya kembali. Saya berpikir dengan kesibukan baru ini tidak mungkin menjalankan usaha seperti dulu, berkeliling menawarkan produk. Tapi tidak pula dengan sekedar promosi via SMS. Ini terlalu sederhana dengan fasilitas yang saya miliki saat ini. Saya memutuskan untuk berjualan di internet. Mulanya hanya bisa membuat blog sederhana tanpa dekorasi. Lama-lama saya mengenal beberapa istilah di dunia blog dan mencoba beberapa ilmu terapan sederhana. Sampai di akhir tahun 2011 saya memutuskan membeli domain sendiri.

Saya mencoba ilmu baru yaitu internet marketing, yang dulu mungkin selama di bangku kuliah hanya disinggung sedikit saja dalam teori pemasaran. Bahkan saya tidak ingat ada bahasan internet marketing selain ketika saya mengajar mata kuliah Entrepreneurship. Walaupun sudah ketinggalan langkah, tapi saya senang dengan bertambahnya ilmu. Coba pasang iklan di sana-sini. Sampai ketika ada pembeli pertama, saya girang bukan main. Dan saya lihat perkembangan website saya mulai masuk pemeringkatan Alexa. Perlahan-lahan saya merasa percaya diri.

Saya memutuskan untuk berjualan produk-produk herbal dulu. Dalam berjualan, saya tidak hanya sebatas memasarkan obat, tapi juga memberikan informasi mengenai keutamaan herbal. Juga ikut memperkenalkan konsep Thibun Nabawi, yaitu pengobatan cara Nabi SAW.  Alhamdulillah beberapa konsumen berlangganan dan terjalin hubungan yang baik pula dengan beberapa produsen.

Setelah herbal, saya mencoba memasarkan produk lain, berupa jasa travel perjalanan umroh, fokusnya pada program umroh backpacker. Saya membuatnya dalam format blog sederhana yang tidak berbayar. Program umroh backpacker ini sebetulnya hasil pengajuan kepada suami agar travel yang baru beberapa waktu kami jalani ini mengadakan paket umroh hemat. Saya berharap dengan program ini dapat membantu siapa saja yang ingin berumroh dengan anggaran terbatas. Alhamdulillah sudah banyak yang berkunjung dan bertanya mengenai informasi umroh backpacker ini.

Saya melihat apa yang saya peroleh saat ini tidak lebih dari kasih sayang yang Allah SWT berikan kepada saya. Ketika saya memikirkan sebatas mengenai teori pemasaran, saya belum berhasil. Namun ketika saya fokuskan untuk memberikan sesuatu bagi orang lain, Allah SWT memberikan kemudahan untuk usaha yang saya jalankan. Saya berkesimpulan dalam membangun usaha itu bukanlah sekedar menganalisa pasar, memproduksi dan memasarkan untuk segera mengambil keuntungan. Tapi lebih dari itu, yaitu memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain.


Di bangku perkuliahan dulu, saya mengenal ilmu marketing hanya sebatas teori. Ingin rasanya mengaplikasikan ilmu yang sudah saya dapat...
Haryani Qonita Abidatullah Selasa, 30 Oktober 2012