Di bangku perkuliahan dulu, saya mengenal ilmu marketing
hanya sebatas teori. Ingin rasanya mengaplikasikan ilmu yang sudah saya dapat,
tapi belum pernah benar-benar berhasil. Di tahun ketiga kuliah saya mencoba mengawali usaha
riil saya untuk menjalankan usaha sendiri dengan menjual kerudung, makanan
ringan dan buku. Saya lebih fokus mempromosikan aneka kerudung. Waktu itu saya
hanya memberikan berbagai pilihan motif. Saya dan 2 orang teman saling
menanamkan modal. Saya pun melobi ibu saya agar beliau mau menanamkan modalnya.
Jadilah usaha saya di launching dengan brand ‘Lazuardi’.
Beberapa orang teman membeli, memesan dan menawarkan lagi ke
temannya. Saya dengan semangat ’45 mempromosikan barang dagangan saya ke
teman-teman di luar kampus, ke keluarga, sampai saya menghubungi para distributor
dari sebuah mini magazine. Saya senang dengan
respon mereka, padahal waktu itu rasanya belum marak apa yang sekarang dikenal
sebagai ‘penjualan jarak jauh’. Saya
hanya menghubungi mereka via SMS, saya menawarkan kerudung dengan beraneka
motif tanpa mengirimkan foto atau apapun, tapi saya berjanji akan langsung
mengirimkan barangnya kepada mereka jika mereka bersedia untuk menjual.
Alhamdulillah beberapa di antara mereka merespon dengan sangat baik. Saya
terkesan dengan mereka.
Sekedar berbagi, saya juga salut pada mereka, karena mereka adalah
distributor mini magazine yang mungkin tidak populer di kalangan anak muda.
Mini magazine yang saya maksud adalah “Open Mind”, sebuah majalah sederhana
yang disusun oleh anak-anak mantan punk yang telah mendedikasikan dirinya demi
dakwah Islam. Sekarang saya lihat ada
yang serupa juga, yaitu zine yang dikeluarkan oleh Underground Tauhid.
Rekan-rekan saya ini ada yang tinggal di Aceh, Kalimantan,
Malang, Makassar, Semarang dan Sumedang. Dan kami belum pernah bertemu muka
sebelumnya. Tapi saya percaya kepada mereka. Singkat cerita saya mengirimkan
barang-barang dagangan saya kepada mereka dan Alhamdulillah mereka membayar dengan
penuh. Sebagian ada yang mengembalikan barang yang tidak laku untuk ditukar.
Sebagian langsung memesan kembali dengan
merinci produk-produk yang mereka perlukan hanya dengan uraian kata lewat SMS. Ternyata
mereka juga percaya kepada saya. Salah seorang dari mereka, yaitu yang tinggal
di Kalimantan mengatakan barang saya ini harganya boleh dibilang murah karena
di Kalimantan tidak mudah menemukan aneka kerudung, mereka terbiasa membeli
bahan kain meteran untuk kemudian dineci sendiri. Saya senang, harusnya ini
bisa menjadi peluang bagi saya.
Tapi, kenyataan berkata lain. Saya terus mengirimkan barang
ke rekan-rekan lain tanpa meminta mereka untuk mengirim pembayarannya.
Sementara saya membeli barang-barang itu dengan tunai. Modal menipis dan
keuntungan tidak besar. Belum lagi ongkos kirim waktu itu saya tanggung
sendiri. Saya kebingungan sendiri, kedua orang teman saya disibukkan oleh
perkuliahan dan aktivitas kampus lain. Saya sedih sekali ketika harus menerima
kenyataan saya dalam waktu dekat akan mengalami gulung tikar. Saya merasa sudah
berusaha semaksimal mungkin dalam menganalisa pasar. Saya yakin belum banyak
orang di kala itu yang memutuskan untuk melakukan penjualan jarak jauh, tanpa
pernah sebelumnya saling mengenal antara penjual dan pembeli. Tapi tidak apa, barang-barang yang masih
tersisa sudah dibagi-bagikan :)
Setelah itu saya belum terpikir untuk memulai usaha baru.
Sampai akhirnya saya bersama seorang kawan dan keluarganya tertarik untuk
menjalankan usaha, yaitu memproduksi donat. Waktu itu dengan keterbatasan dana
hasil menyisihkan gaji sebagai staff pengajar honorer, saya menjadi pemodal utamanya.
Hari ujicoba berjalan lancar. Sampai hari perdana produksi semua lancar. Yang
berperan sebagai seller adalah kakak ipar dari kawan saya, sehari-hari ia
menawarkan barang keperluan rumah tangga ke warung-warung, kami sepakat dengan
kemampuan seperti ini kakak ipar kawan saya ini akan mampu merayu pemilik
warung untuk turut pula menjual donat kami. Tapi ternyata perhitungan kami meleset.
Tidak satu pun donat kami laku terjual.
Untuk ukuran seorang pekerja part time seperti saya, yang
honornya tidaklah seberapa, rasanya sakit sekali. Tapi itu sudah berlalu dan
donat-donat itu sudah habis dibagi-bagikan….
Setelah itu saya hanya menjadi penjual produk kesehatan
dengan sistem member get member dan aksesoris wanita. Tapi bisa dibilang belum juga
berhasil.
Kemudian saya berpikir untuk membuat sebuah website yang
akan saya jadikan wadah promosi dari beberapa produk. Istilahnya one stop
shopping. Ada buku, aksesoris, kerudung, pakaian Muslim/ah, mainan edukasi,
distro clothing dll. Sudah sibuk mencari informasi tentang dunia website, tapi
belum kesampaian.
Akhirnya berjodoh dengan seorang wirausahawan…
Di awal pernikahan saya baru bisa membantu usaha suami di
bagian keuangan dan administrasi. Saking padatnya rasanya tidak ada waktu untuk
menggapai impian saya memiliki usaha sendiri. Sampai kemudian datang waktu
luang di mana saya diberi kemudahan untuk membangun impian saya kembali. Saya
berpikir dengan kesibukan baru ini tidak mungkin menjalankan usaha seperti
dulu, berkeliling menawarkan produk. Tapi tidak pula dengan sekedar promosi via
SMS. Ini terlalu sederhana dengan fasilitas yang saya miliki saat ini. Saya
memutuskan untuk berjualan di internet. Mulanya hanya bisa membuat blog
sederhana tanpa dekorasi. Lama-lama saya mengenal beberapa istilah di dunia
blog dan mencoba beberapa ilmu terapan sederhana. Sampai di akhir tahun 2011
saya memutuskan membeli domain sendiri.
Saya mencoba ilmu baru yaitu internet marketing, yang dulu
mungkin selama di bangku kuliah hanya disinggung sedikit saja dalam teori
pemasaran. Bahkan saya tidak ingat ada bahasan internet marketing selain ketika
saya mengajar mata kuliah Entrepreneurship. Walaupun sudah ketinggalan langkah,
tapi saya senang dengan bertambahnya ilmu. Coba pasang iklan di sana-sini.
Sampai ketika ada pembeli pertama, saya girang bukan main. Dan saya lihat
perkembangan website saya mulai masuk pemeringkatan Alexa. Perlahan-lahan saya
merasa percaya diri.
Saya memutuskan untuk berjualan produk-produk herbal dulu. Dalam
berjualan, saya tidak hanya sebatas memasarkan obat, tapi juga memberikan
informasi mengenai keutamaan herbal. Juga ikut memperkenalkan konsep Thibun
Nabawi, yaitu pengobatan cara Nabi SAW. Alhamdulillah beberapa konsumen berlangganan
dan terjalin hubungan yang baik pula dengan beberapa produsen.
Setelah herbal, saya mencoba memasarkan produk lain, berupa
jasa travel perjalanan umroh, fokusnya pada program umroh backpacker. Saya
membuatnya dalam format blog sederhana yang tidak berbayar. Program umroh
backpacker ini sebetulnya hasil pengajuan kepada suami agar travel yang baru
beberapa waktu kami jalani ini mengadakan paket umroh hemat. Saya berharap
dengan program ini dapat membantu siapa saja yang ingin berumroh dengan anggaran
terbatas. Alhamdulillah sudah banyak yang berkunjung dan bertanya mengenai
informasi umroh backpacker ini.

Mantap ...
BalasHapusSetuju mas bro >>
Selalu berusaha dan berdoa Kepada ALLah SWT juga menjadi kuncinya ..
makasih sharingnya mas..
BalasHapusterkadang kejenuhan membuat segalanya buram tak tentu arah..
hanya kejujuran,usaha dan doa lah yang harus di pegang dalam dunia wirausaha..
dan jangan mudah percaya kepada rekan bisnis terutama yang bertipikal penjilat dan musuh dalam selimut.. safety can be fun
mohon like fanpage baru dagangan sepatu saya.. klo minat silahkan order.. . maaf juga udh numpang promosi tanpa ijin
like fanpage dagangan ane ya gan.. GallerySepatu
https://www.facebook.com/pages/Gallery-Sepatu/170684753072127