Inspirasi Wirausaha Muslim

Di blog ini, penulis mengajak sesama Muslim untuk saling berbagi, menginspirasi dan menyemangati dalam meraih cita-cita terutama di bidang wirausaha membangun perekonomian yang sesuai dengan syariat.
Menu
Results for "MANAJEMEN"
Go! Muslimpreneur



Manajemen sebagai sebuah ilmu tentu tidak terbatas pada lingkup teori semata, tetapi mencakup praktek dalam dunia nyata. Istilah manajemen lazim disandangkan pada urusan bisnis - padahal untuk sekedar tahu saja - tidak hanya bisnis yang perlu di-manage (dikelola). Saat ini beberapa perguruan tinggi membuka program keilmuan manajemen untuk urusan pendidikan, rumah sakit dan lain-lain.

Di blog ini kita tidak akan membahas ilmu manajemen lain selain manajemen untuk bisnis. Apakah saya dalam hal ini termasuk orang yang kompeten menulis definisi dan paparan tentang manajemen bisnis? Bukan, tentu saja saya bukan orang yang tepat untuk menjabarkan panjang lebar tentang ilmu manajemen bisnis saat ini.

Tapi saya ingin sedikit berbagi, setidaknya ada 4 bidang yang perlu diperhatikan dalam menguasai manajemen bisnis, yaitu mengenai Operasional, Pemasaran, Keuangan dan Sumber Daya Manusia. Keempat bidang ini saling berkaitan satu sama lain.

Mengenai operasional yang pertama perlu diperhatikan adalah urusan produksi. Dalam menjalankan bisnis tidak harus memproduksi sendiri, tetapi bisa menggunakan jasa makloon (menggunakan jasa orang lain dalam memproduksi). Sebagai seorang wirausaha perlu dipikirkan apakah akan memproduksi sendiri barang dagangannya atau menggunakan jasa orang lain.

Suami saya adalah seorang ahli Bahasa, tapi dia memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Suatu saat terlintas dalam pikirannya untuk mengambil peluang dengan menjual penghemat bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Untuk konsep awal produk ia rancang sendiri, selebihnya diserahkan kepada orang lain yang sudah berpengalaman di bidang itu. Setelah mengamati dan ikut terjun dalam proses produksi, ia menyimpulkan sendiri bahwa pembuatan alat itu sebetulnya mudah. Hanya tinggal memasang komponen ini dan itu. Akhirnya ia putuskan untuk membuat bengkel kerja sendiri dengan satu orang tenaga ahli dan beberapa orang pekerja dengan tujuan untuk menghemat ongkos produksi.  Belanja alat-alat sendiri, memilih bahan baku pun sendiri, semuanya dilakukan demi menekan biaya dan meningkatkan profit. Apa yang terjadi, produk yang diciptakan tidak memiliki standar produk yang layak pakai. Padahal rasanya sudah dibuat persis sama seperti produk yang awal dibuat. Ini hanya sedikit cerita mengenai usaha yang pernah dijalankan oleh suami. Belajar dari pengalaman tadi kami akan lebih mempertimbangkan ketika kembali memasarkan suatu produk, apakah akan memproduksi sendiri atau menggunakan jasa orang lain.

Ketika kekuatan bisnis Anda terletak pada pemasarannya, sebaiknya urusan produksi diserahkan kepada orang lain. Namun jika memang Anda memiliki modal utama dalam bidang produksi, sebaiknya manfaatkan kekuatan tersebut dan carilah partner yang mampu memasarkan produk Anda kepada konsumen. 

Selanjutnya dalam bidang operasional yang perlu diperhatikan adalah pengecekan barang di dalam gudang. Ini jika usaha Anda berupa barang. Data mengenai perputaran produk di tempat penyimpanan barang (gudang atau stok di display) sangat penting untuk selalu diperbarui.

Bagaimana jika yang dijual adalah jasa? Pengalaman kami menjalankan bisnis travel umroh dan haji plus, sistem operasional yang perlu diperhatikan dalam bidang jasa adalah kejelasan fasilitas yang didapatkan oleh konsumen. Kami selalu berharap pengguna jasa kami merasa puas, menjadi percaya kepada kami dan memberikan rekomendasi yang baik kepada sanak famili maupun rekan-rekan mereka yang lain. Hal lain adalah aturan yang jelas perlu dibuat dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. Misalnya dalam pemberangkatan umroh/haji, kami membuat aturan mengenai pembayaran, pelunasan dan pembatalan.

Bidang yang selanjutnya adalah mengenai pemasaran. Seorang wirausaha harus sudah menentukan bentuk pemasaran untuk produk/jasa yang akan ditawarkan kepada konsumen. Suami saya adalah seorang wirausaha sekaligus marketer yang handal (penilaian seorang istri :) ). Kelebihan suami saya adalah mampu membuat orang lain terkesima mendengarkan penjelasannya. Saya yakin banyak orang yang juga seperti suami saya, menggunakan the power of mouth to mouth dalam memasarkan produk/jasanya. Selain itu, saya dengan minat saya sendiri berupaya mempromosikan usaha kami lewat dunia internet. Cobalah masuk ke situs penjualan seperti Indonetwork, Tokobagus, Kaskus dan jangan remehkan kekuatan blog gratisan... Seperti yang saya kelola saat ini, http://backpacker-umroh.blogspot.com

Bidang yang kami geluti saat ini adalah herbal, beberapa kali kami mengadakan bakti sosial pengobatan cara Nabi SAW (Thibun Nabawi) sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat (istilah marketing-nya CSR ya….). Selain itu kami mendirikan Institut Ketabiban Herbal untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin mempelajari Thibun Nabawi, terutama bekam dan ruqyah. Selain itu juga kiropraksi, pijat bayi, akupuntur, iridologi dan acupressure. Selain itu kami bekerjasama dengan Yayasan yang dikelola oleh suami sendiri dalam menjalankan program peduli 1000 yatim.

Kemudian yang perlu dipikirkan adalah mengenai keuangan. Arus kas masuk dan keluar sangat penting untuk dicatat harian. Sementara dalam periode 1 sampai 3 bulan minimal perlu dibuat neraca dan laporan laba guna mengetahu perkembangan usaha. Saya membantu suami membuat laporan keuangan sederhana, kami tidak melibatkan diri pada permodalan dari bank untuk saat ini, mudah-mudahan untuk selanjutnya bisa mandiri.

Hal yang terakhir adalah mengenai sumber daya manusia. Dalam menentukan siapa di posisi apa tentu masing-masing orang memiliki pertimbangannya sendiri. Kami, sejauh ini berupaya untuk tidak menilai orang hanya sekedar dari latar belakang pendidikannya. Kami menerima seorang pekerja dengan latar belakang pendidikan SMP sebagai office boy dengan gaji hanya Rp 600.000,00 dengan peraturan ketat dalam menjaga kantor. Kemudian dengan kegigihannya pekerja kami ini bekerja dengan sangat baik. Berkat kejujurannya kami mempercayakan kepadanya posisi Supervisor untuk saat ini dengan gaji yang jauh lebih baik. Sementara beberapa kali pekerja dengan latar belakang Sarjana tidak serius dalam menjalani kontrak kerja.

Semua bidang yang perlu dikelola dalam sebuah bisnis merupakan satu kesatuan. Keputusan mengenai operasional akan mempengaruhi pola keuangan dan keputusan dalam meng-hire pekerja (SDM). Keputusan mengenai pemasaran akan mempengaruhi pola keuangan dan juga persoalan SDM. Keputusan mengenai keuangan mempengaruhi persoalan SDM dan mengenai SDM mempengaruhi keputusan mengenai keuangan. Setidaknya itu yang dapat saya simpulkan dari hasil pengamatan saya secara pribadi.

Siapa sangka sahabat saya yang pendiam itu kini menyelam lebih dalam lagi di dunia Manajemen Bisnis di sebuah PTN di Kota Kembang. Cita-citanya adalah menjadi dosen di bidang ilmu Manajemen Bisnis. Suatu saat saya akan mengajaknya berdiskusi lebih serius mengenai Manajemen Bisnis. 

Manajemen sebagai sebuah ilmu tentu tidak terbatas pada lingkup teori semata, tetapi mencakup praktek dalam dunia nyata. Istilah manaj...
Haryani Qonita Abidatullah Selasa, 06 November 2012
Go! Muslimpreneur


Di bangku perkuliahan dulu, saya mengenal ilmu marketing hanya sebatas teori. Ingin rasanya mengaplikasikan ilmu yang sudah saya dapat, tapi belum pernah benar-benar berhasil. Di tahun  ketiga kuliah saya mencoba mengawali usaha riil saya untuk menjalankan usaha sendiri dengan menjual kerudung, makanan ringan dan buku. Saya lebih fokus mempromosikan aneka kerudung. Waktu itu saya hanya memberikan berbagai pilihan motif. Saya dan 2 orang teman saling menanamkan modal. Saya pun melobi ibu saya agar beliau mau menanamkan modalnya. Jadilah usaha saya di launching dengan brand ‘Lazuardi’.


Beberapa orang teman membeli, memesan dan menawarkan lagi ke temannya. Saya dengan semangat ’45 mempromosikan barang dagangan saya ke teman-teman di luar kampus, ke keluarga, sampai saya menghubungi para distributor dari sebuah mini magazine. Saya senang  dengan respon mereka, padahal waktu itu rasanya belum marak apa yang sekarang dikenal sebagai ‘penjualan jarak jauh’.  Saya hanya menghubungi mereka via SMS, saya menawarkan kerudung dengan beraneka motif tanpa mengirimkan foto atau apapun, tapi saya berjanji akan langsung mengirimkan barangnya kepada mereka jika mereka bersedia untuk menjual. Alhamdulillah beberapa di antara mereka merespon dengan sangat baik. Saya terkesan dengan mereka.

Sekedar berbagi, saya juga salut pada mereka, karena mereka adalah distributor mini magazine yang mungkin tidak populer di kalangan anak muda. Mini magazine yang saya maksud adalah “Open Mind”, sebuah majalah sederhana yang disusun oleh anak-anak mantan punk yang telah mendedikasikan dirinya demi dakwah Islam.  Sekarang saya lihat ada yang serupa juga, yaitu zine yang dikeluarkan oleh Underground Tauhid.

Rekan-rekan saya ini ada yang tinggal di Aceh, Kalimantan, Malang, Makassar, Semarang dan Sumedang. Dan kami belum pernah bertemu muka sebelumnya. Tapi saya percaya kepada mereka. Singkat cerita saya mengirimkan barang-barang dagangan saya kepada mereka dan Alhamdulillah mereka membayar dengan penuh. Sebagian ada yang mengembalikan barang yang tidak laku untuk ditukar. Sebagian langsung  memesan kembali dengan merinci produk-produk yang mereka perlukan hanya dengan uraian kata lewat SMS. Ternyata mereka juga percaya kepada saya. Salah seorang dari mereka, yaitu yang tinggal di Kalimantan mengatakan barang saya ini harganya boleh dibilang murah karena di Kalimantan tidak mudah menemukan aneka kerudung, mereka terbiasa membeli bahan kain meteran untuk kemudian dineci sendiri. Saya senang, harusnya ini bisa menjadi peluang bagi saya.

Tapi, kenyataan berkata lain. Saya terus mengirimkan barang ke rekan-rekan lain tanpa meminta mereka untuk mengirim pembayarannya. Sementara saya membeli barang-barang itu dengan tunai. Modal menipis dan keuntungan tidak besar. Belum lagi ongkos kirim waktu itu saya tanggung sendiri. Saya kebingungan sendiri, kedua orang teman saya disibukkan oleh perkuliahan dan aktivitas kampus lain. Saya sedih sekali ketika harus menerima kenyataan saya dalam waktu dekat akan mengalami gulung tikar. Saya merasa sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menganalisa pasar. Saya yakin belum banyak orang di kala itu yang memutuskan untuk melakukan penjualan jarak jauh, tanpa pernah sebelumnya saling mengenal antara penjual dan pembeli.  Tapi tidak apa, barang-barang yang masih tersisa sudah dibagi-bagikan :)

Setelah itu saya belum terpikir untuk memulai usaha baru. Sampai akhirnya saya bersama seorang kawan dan keluarganya tertarik untuk menjalankan usaha, yaitu memproduksi donat. Waktu itu dengan keterbatasan dana hasil menyisihkan gaji sebagai staff pengajar honorer, saya menjadi pemodal utamanya. Hari ujicoba berjalan lancar. Sampai hari perdana produksi semua lancar. Yang berperan sebagai seller adalah kakak ipar dari kawan saya, sehari-hari ia menawarkan barang keperluan rumah tangga ke warung-warung, kami sepakat dengan kemampuan seperti ini kakak ipar kawan saya ini akan mampu merayu pemilik warung untuk turut pula menjual donat kami. Tapi ternyata perhitungan kami meleset.  Tidak satu pun donat kami laku terjual.

Untuk ukuran seorang pekerja part time seperti saya, yang honornya tidaklah seberapa, rasanya sakit sekali. Tapi itu sudah berlalu dan donat-donat itu sudah habis dibagi-bagikan….

Setelah itu saya hanya menjadi penjual produk kesehatan dengan sistem member get member dan aksesoris wanita. Tapi bisa dibilang belum juga berhasil.

Kemudian saya berpikir untuk membuat sebuah website yang akan saya jadikan wadah promosi dari beberapa produk. Istilahnya one stop shopping. Ada buku, aksesoris, kerudung, pakaian Muslim/ah, mainan edukasi, distro clothing dll. Sudah sibuk mencari informasi tentang dunia website, tapi belum kesampaian.

Akhirnya berjodoh dengan seorang wirausahawan…

Di awal pernikahan saya baru bisa membantu usaha suami di bagian keuangan dan administrasi. Saking padatnya rasanya tidak ada waktu untuk menggapai impian saya memiliki usaha sendiri. Sampai kemudian datang waktu luang di mana saya diberi kemudahan untuk membangun impian saya kembali. Saya berpikir dengan kesibukan baru ini tidak mungkin menjalankan usaha seperti dulu, berkeliling menawarkan produk. Tapi tidak pula dengan sekedar promosi via SMS. Ini terlalu sederhana dengan fasilitas yang saya miliki saat ini. Saya memutuskan untuk berjualan di internet. Mulanya hanya bisa membuat blog sederhana tanpa dekorasi. Lama-lama saya mengenal beberapa istilah di dunia blog dan mencoba beberapa ilmu terapan sederhana. Sampai di akhir tahun 2011 saya memutuskan membeli domain sendiri.

Saya mencoba ilmu baru yaitu internet marketing, yang dulu mungkin selama di bangku kuliah hanya disinggung sedikit saja dalam teori pemasaran. Bahkan saya tidak ingat ada bahasan internet marketing selain ketika saya mengajar mata kuliah Entrepreneurship. Walaupun sudah ketinggalan langkah, tapi saya senang dengan bertambahnya ilmu. Coba pasang iklan di sana-sini. Sampai ketika ada pembeli pertama, saya girang bukan main. Dan saya lihat perkembangan website saya mulai masuk pemeringkatan Alexa. Perlahan-lahan saya merasa percaya diri.

Saya memutuskan untuk berjualan produk-produk herbal dulu. Dalam berjualan, saya tidak hanya sebatas memasarkan obat, tapi juga memberikan informasi mengenai keutamaan herbal. Juga ikut memperkenalkan konsep Thibun Nabawi, yaitu pengobatan cara Nabi SAW.  Alhamdulillah beberapa konsumen berlangganan dan terjalin hubungan yang baik pula dengan beberapa produsen.

Setelah herbal, saya mencoba memasarkan produk lain, berupa jasa travel perjalanan umroh, fokusnya pada program umroh backpacker. Saya membuatnya dalam format blog sederhana yang tidak berbayar. Program umroh backpacker ini sebetulnya hasil pengajuan kepada suami agar travel yang baru beberapa waktu kami jalani ini mengadakan paket umroh hemat. Saya berharap dengan program ini dapat membantu siapa saja yang ingin berumroh dengan anggaran terbatas. Alhamdulillah sudah banyak yang berkunjung dan bertanya mengenai informasi umroh backpacker ini.

Saya melihat apa yang saya peroleh saat ini tidak lebih dari kasih sayang yang Allah SWT berikan kepada saya. Ketika saya memikirkan sebatas mengenai teori pemasaran, saya belum berhasil. Namun ketika saya fokuskan untuk memberikan sesuatu bagi orang lain, Allah SWT memberikan kemudahan untuk usaha yang saya jalankan. Saya berkesimpulan dalam membangun usaha itu bukanlah sekedar menganalisa pasar, memproduksi dan memasarkan untuk segera mengambil keuntungan. Tapi lebih dari itu, yaitu memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain.


Di bangku perkuliahan dulu, saya mengenal ilmu marketing hanya sebatas teori. Ingin rasanya mengaplikasikan ilmu yang sudah saya dapat...
Haryani Qonita Abidatullah Selasa, 30 Oktober 2012