Sikap optimis, saya rasa dibutuhkan bukan hanya
oleh seorang entrepreneur. Semua orang, apapun profesinya, dalam hal kebaikan harus
selalu optimis.
Saya telah menyaksikan beberapa orang teman memperoleh
kemenangan dari hasil sikap optimis selama menggapai yang dicita-citakan. Saya
salut dengan mereka, karena untuk bisa selalu bersikap optimis tidak mudah.
Saya sendiri sempat mengalami keterpurukan ketika gambaran masa depan tidak nampak
secara jelas.
Beberapa bulan menjelang sidang skripsi saya
bergabung sebagai relawan koperasi desa tempat saya tinggal. Niat awal sekedar mencari kegiatan, karena di
kampus hanya tinggal bimbingan skripsi dan sudah lepas dari organisasi
kemahasiswaan. Ternyata walau kedudukan saya hanya sebagai relawan di sana,
saya diberikan insentif. Jumlahnya tidak banyak, hanya 225 ribu per bulan. Namun
dalam hati selalu mengharapkan jatah di setiap awal bulan. Uangnya bisa saya
pergunakan untuk ongkos bolak-balik hunting sumber rujukan di beberapa
perpustakan untuk bahan menyusun skripsi saya, begitu pikiran saya. Saya pun
tidak masalah ketika harus potong gaji lantaran uang koperasi hilang entah
kemana, pernah hilang 50 ribu, pernah juga hilang 100 ribu. Ukuran yang besar
untuk saya. Saya tidak mengerti, memang banyak yang bilang di desa saya banyak
yang menjalankan praktek berbau klenik. Saya sedang futur waktu itu, jadi
mungkin penjagaan dirinya kurang.
Bidang kegiatan saya adalah keuangan, adapun
job desc saya kala itu adalah menjadi asisten Unit Pelaksana Keuangan untuk
urusan administrasi pembukuan. Sehari-harinya saya bertugas stand by di kantor
koperasi sesuai jadwal yang diberikan. Dalam 1 minggu, saya diberikan jadwal
piket 3 hari, masuk jam 8 dan pulang jam 1 siang.
Yang saya kerjakan begitu datang di pagi hari
adalah membersihkan ruangan dan menyiapkan pemberkasan yang diperlukan untuk
mencatat transaksi keuangan yang terjadi selama hari itu. Selama 5 jam, pekerjaan
saya hanya menunggu anggota koperasi yang akan menyetor angsuran pinjaman atau yang
mau menabung di koperasi.
Ketika ada transaksi, saya membuatkan slip
masuk dan dicatat di cash flow harian. Ini menarik, karena saya belajar
beberapa hal penting mengenai pembukuan di sini. Selama saya mempelajari
akuntansi di SMEA dan beberapa SKS di bangku kuliah tidak mendapatkan praktek
pembukuan sederhana yang efektif dan efisien. Sebenarnya saya menikmati
pekerjaan saya. Namun lama kelamaan saya merasa jenuh. Ketika kantor sepi, saya
hanya bertemankan komputer. Iseng-iseng menulis puisi sambil diiringi lagu-lagu
Ebiet Biet A yang diputar berulang-ulang. Atau nge-game.….
Ketika datang jadwal rapat antar tokoh
koperasi, saya senang karena terlihat antusiasme warga untuk hadir dan
berpartisipasi. Saya tidak ada pikiran apa-apa. Saya senang saja ketika tahu
kalau ada rapat para anggota rapat diberi insentif per orang 50 ribu.
Saya juga senang ketika ada pekerjaan tambahan seperti
menyusun proposal ketika pemerintah akan mengeluarkan dana pengembangan di
setiap desa. Saya tidak memikirkan apakah pekerjaan ini menguntungkan atau
tidak, yang penting saya bisa membantu. Itu saja… Tapi, ketika dijanjikan bahwa
kelak ketika dana dari pemerintah cair saya akan diberi insentif tambahan untuk
pekerjaan-pekerjaan yang saya kerjakan, saya senang. Dan tentu saja berharap
saya akan mendapatkan persenan lebih banyak daripada anggota lain, karena
memang saya mengerjakan beberapa hal penting sendirian.
Dan ternyata saya terlalu muluk. Pekerjaan yang saya kerjakan yang menurut saya
paling banyak itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan pekerjaan para tokoh
masyarakat dalam menggalang kebersamaan masyarakat menggarap proyek pemerintah
di lapangan. Walaupun saya tidak melihat kerasnya usaha mereka dalam
mempersiapkan semuanya. Mungkin saat itu saya terlalu banyak berpikiran negatif,
tapi saya syukuri saja, karena niat awalnya hanya untuk membantu… Tidak
mengapa, Alhamdulillah jadi punya tambahan, lagi-lagi demi ongkos penyusunan
skripsi.
Ketika ujian sidang sudah dekat, saya rasa saya
harus lebih fokus mengurusi skripsi saya. Saya tidak ingin terlalu terlibat di
koperasi desa, karena entah mengapa saya merasa terlalu diandalkan, jadi lama
kelamaan menjadi beban. Ini tidak baik, karena pasti ke depannya saya akan
merasa tidak nyaman. Saya putuskan untuk mengundurkan diri. Walaupun sebenarnya
saya masih memerlukan tambahan pemasukan untuk menyelesaikan skripsi saya.
Tiba sidang skripsi saya bersyukur mendapatkan
IPK tertinggi di antara teman-teman satu program studi. Bahkan untuk satu
jurusan. Tapi saya sedih karena IPK saya sebetulnya turun, harusnya kalau
sidangnya bisa lebih bagus nilai IPK saya bisa lebih tinggi lagi, mungkin bisa
tertinggi se-kampus. Saya akui, sebenarnya saya kurang sungguh-sungguh dalam
bersyukur… Saya masih menyesal karena terlalu idealis dalam menyusun skripsi
sehingga tidak memperhatikan benar teori apa saja yang saya kutip di skripsi
saya. Bayangkan, untuk mendefinisikan 1 istilah saja saya mengambil teori dari
beberapa buku. Saking banyaknya, saya bahkan tidak ingat untuk menghapal satu
di antaranya. Saya berpikir ketika presentasi sidang, saya akan banyak membuka
skripsi, tapi ternyata ketika sidang saya diminta untuk menutup skripsi saya
dan diberi waktu presentasi hanya sekitar 5 menit, tanpa penjelasan
bertele-tele. Yang ada semua blank, 6 bulan bolak-balik perpustakaan hasilnya
jauh dari memuaskan. Saya hanya memperoleh nilai B untuk skripsi saya, padahal
saya berharap nilainya A, kalau bisa A+, hehe.
Saya PD karena banyak rujukan yang saya kutip, judulnya pun up to date
dan skripsinya tipis. Tapi ya bagaimana lagi, seorang calon sarjana S1 harus
mengalah di hadapan para doktor dan kandidat doktor. Ketika hasilnya diumumkan
saya menangis, bukan menangis terharu, tapi menangis sedih, saya teringat perjuangan
ketika menyusun skripsi. Ibunda yang paling saya ingat, beliau menjadi sponsor
utama dalam penyusunan skripsi saya.
Semua segera berlalu. Sampai tiba hari
wisuda, saya tidak begitu gembira. Baju toga baru saya terima di hari H. Ngga
semangat ikut gladi resik. Hari itu pun bagi saya biasa saja. Lagi-lagi saya tidak
bersungguh-sungguh dalam bersyukur.
Selepas wisuda saya ditawari oleh seorang
sahabat kakak saya untuk bekerja di pabrik tekstil dekat dengan rumah sebagai
staff keuangan. Katanya gaji awalnya sekitar 2/3 juta. Saya tahu saya tidak
akan tertarik. Tapi saya tidak enak untuk menolak, akhirnya saya datang untuk
wawancara. Yang membuat saya sakit hati adalah sikap cuek dari orang yang katanya
adalah bagian HRD itu. Ogah-ogahan ketika mewawancara. Dan dia memberitahu
bahwa setiap yang bekerja di sana harus mengikuti semua aturan yang sudah
dibuat. Termasuk tidak boleh mengenakan rok bagi perempuan. Saat itu saya
mengenakan gamis. Saya bingung dan sedih. Saya berjanji untuk tidak menerima
tawaran bekerja di sana. Berapapun besar gaji yang diberikan dan betapapun
besar peluang untuk bisa diterima.
Setelah itu saya mencari informasi lowongan
kerja di Koran daerah setiap hari Sabtu. Saya juga masukkan lamaran ke
tempat-tempat yang membuka lowongan. Sempat saya dipanggil oleh sebuah radio
swasta di Bandung untuk menjadi staff riset. Saya menjalani tes tulis, tapi
tidak sampai wawancara. Mungkin saya memang tidak bakat jadi pe-riset. Saya
juga pernah interview di sebuah perusahaan kontraktor, tapi tidak sampai
diterima bekerja. Juga pernah meminta untuk dimasukkan lamaran sebagai dosen di
sebuah PTS di Bandung ke salah seorang dosen yang mengajar di sana. Tapi gayung
tidak bersambut. Saya juga yang bodoh, karena berharap pada orang yang tidak
dikenal. Dan memang saya punya kelebihan apa sehingga begitu PD nya mengajukan
lamaran menjadi dosen di sebuah PTS terkenal. Apalagi orang yang saya minta
rekomendasinya itu punya juga anak yang baru lulus kuliah tapi tidak bisa
dengan mudah melamar menjadi dosen. Saya jadi sedih, tapi tidak patah arang.
Terus saya berusaha mencari peluang.
Sampai suatu hari saya diminta datang untuk
presentasi dan wawancara di sebuah universitas swasta baru di Bandung. Saya
senang bukan main. Tapi saya tidak tahu tema apa yang akan saya angkat sebagai
bahan presentasi saya. Jam 3 dini hari saya putuskan memilih tema tentang membangun
bisnis. Saya anggap tema ini paling mudah. Saya ambil bahan-bahannya dari buku
Menggagas Bisnis Islami karya M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijaya.
Ketika diberikan pilihan akan mengajar mata
kuliah apa, saya pilih di antaranya adalah Manajemen, Entreprenurship,
Innovation and Creativity dan beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan
Manajemen. Saya buka presentasi dengan sederhana, dan saya berusaha untuk
tampil percaya diri.
Baru setelah sekitar 1 bulan saya dipanggil
untuk mengajar. Saya hampir putus asa karena dijanjikan hanya menunggu kabar
selama 3 hari, ternyata perlu waktu sampai 1 bulan kemudian. Tidak ada kontrak,
saya diangkat menjadi tenaga pengajar part time..
Hari pertama saya berusaha untuk tidak nervous.
Saya yakinkan kalau saya mampu menerima amanah ini. Yang membuat saya merasa
kurang percaya diri yaitu ketika harus mengajar kelas karyawan yang
mahasiswanya terdiri dari mayoritas bapak-bapak yang usianya jauh di atas saya.
Saya hanya bisa menyampaikan teori. Karena secara praktek saya masih minim
ilmu. Seharusnya saya lah yang banyak belajar dari mereka. Alhamdulillah mereka
mau membantu saya. Saya pikir, seandainya universitas tersebut punya sedikit
kemampuan meng-hire tenaga dosen yang sesuai pasti lah tidak akan merekrut saya
sebagai tenaga pengajar J. Saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan.
Di semester kedua saya diberi amanah mengajar satu
kelas yang sepengetahuan saya terdiri dari anak-anak muda yang sudah
berpengalaman di dunia entrepreneur. Ketika saya masuk di kelas lain saya PD
saja walaupun sering tidak dihiraukan lantaran kebanyakan jurusan yang saya
pegang itu jurusan teknik yang mayoritas adalah mahasiswa dan mereka tidak
cenderung untuk mempelajari ilmu entreprenurship. Tapi di kelas yang satu ini
saya merasa sedikit minder.
Saya tidak membiarkan rasa minder mendominasi
pikiran saya, karena sambil mengajar saya terus mencari-cari informasi mengenai
seminar-seminar seputar bisnis. Saya yakin saya bisa. Sebenarnya saya berharap memperoleh
beasiswa untuk melanjutkan studi saya, namun kesempatannya belum ada. Dan saya
sedih karena kegiatan-kegiatan yang saya ikuti kebanyakan adalah gratis,
sementara yang bayar saya tidak bisa ikut karena keterbatasan dana. Saya
dibayar per SKS. Untuk menambah uang bulanan saya memutuskan untuk bekerja di
tempat lain. Saya melamar ke playgroup,
ke universitas swasta lain dan terakhir ke lembaga kursus komputer. Di tempat
terakhir ini saya diterima mengajar. Upahnya pun tidak seberapa. Dihitung per
jam mengajar. Tapi saya menikmatinya, karena ambisi saya memang menguasai ilmu
komputer, walaupun untuk materi yang paling mudah.
Mungkin kalau teman-teman saya tahu saya digaji
sangat kecil, mereka akan heran mengapa saya mau menerima pekerjaan-pekerjaan
itu. Saya pun tidak tahu mengapa saya begitu bahagia menjadi tenaga part timer.
Saya bersyukur bisa mengajar di sebuah PTS. Saya melihatnya sebagai peluang.
Entah peluang apa. Karena saya juga punya teman yang sama-sama menjadi dosen di
PTS. Tapi profesinya sebagai dosen hanya sebagai sambilan. Pekerjaan utamanya
adalah mengajar anak-anak di lembaga kursus. Dari tempat mengajar kursus dia
menerima gaji lebih besar. Menurut saya dia tidak melihat kesempatan mengajar
di PTS sebagai sebuah peluang yang berarti. Mungkin karena terikat kontrak dengan lembaga
kursus tempat dia mengajar, jadi dia tidak bisa mengutamakan pekerjaannya
mengajar di PTS.
Saya berpikir pengalaman saya mengajar bisa
dijadikan bekal mengajukan beasiswa S2. Saya sempat underestimate ketika
seorang teman mengatakan dia bahkan sudah pernah berjumpa dengan pemilik
universitas tempat saya mengajar. Saya merasa terlalu keras berjuang di kelas
ecek-ecek. Tapi saya tidak punya pilihan yang lebih baik dari apa yang sedang
saya kerjakan. Saya menjadi part-timer yang bebas. Dan saya tidak terikat
kontrak.
Karena satu sebab, saya memutuskan untuk
berhenti mengajar kursus komputer. Praktis penghasilan pun berkurang. Saya
mengajukan beasiswa. Tapi belum berhasil.
Suatu saat kampus tempat saya mengajar
mengajukan akreditasi. Tim akreditasi PTS datang ke kampus untuk memberi
penilaian. Saya diundang untuk hadir sebagai perwakilan dosen mata kuliah
entrepreneurship. Saya hanya bisa tersenyum, di antara dosen-dosen yang hadir
saat itu, saya lah yang masih bau kencur. Saya berharap bisa segera melanjutkan
S2.
Setelah masa 2 semester mengajar, saya ditawari
untuk menjadi tenaga pengajar tetap. Saya senang bukan main. Tapi ada syarat,
katanya saya harus terlebih dahulu melanjutkan studi. Saya bilang saja saya
memang sedang mengajukan beasiswa, mudah-mudahan diterima.
Saya tidak yakin, apakah saya benar-benar akan
mendapatkan beasiswa S2. Sampai ada peluang mengajar di sebuah yayasan di
Bogor. Saya yakin di sana adalah jalan saya mengabdikan diri lebih jauh.
Sebetulnya tidak ada yang benar-benar saya
sukai dari tempat mengajar saya yang baru kecuali satu hal, yaitu kesempatan
menghafal al-Qur’an, yang tidak saya dapatkan selama ini. Ketika didaftarkan
kuliah S2 dengan biaya dari yayasan saya tidak terlalu senang, karena
sebenarnya saya sangat ingin melanjutkan kuliah setidaknya di universitas
negeri, kalau tidak ke luar negeri, lebih keren…. Karena biayanya dari yayasan,
saya tidak bisa menentukan sendiri di mana saya akan melanjutkan kuliah.
Setelah beberapa waktu saya baru tersadar,
selama ini saya hanya mengejar ilmu dunia. Tidak sempat mempelajari ilmu al-Qur’an.
Betapa malunya saya.
Saya tidak lagi berambisi untuk S2 untuk
sementara waktu. Setelah menikah saya fokus membantu usaha suami. Waktunya saya
mempraktekkan ilmu yang sudah saya pelajari semasa kuliah. Menyusun laporan
keuangan, mengatur standar operasi kerja, membuat surat kontrak dan lain
sebagainya.
Saya belajar banyak dari pekerjaan saya ini.
Dan saya banyak mengamati kegiatan suami saya. Suami saya merintis usahanya
dari nol. Latar belakang pendidikannya adalah Bahasa Arab. Sebelumnya sempat
juga menjadi santri pondok pesantren tahfidz, pondok pesantren khusus program
menghafal al-Qur’an. Untuk ilmu agama insyaAllah beliau dapat diandalkan. Dalam
mencari nafkah awalnya beliau mengajar, tapi jiwa bisnisnya lebih kuat,
sehingga sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu beliau memutuskan membangun
sebuah perusahaan.
Perusahaan yang dibangun hanya bertahan
beberapa tahun, setelah itu beliau putuskan menjalankan usaha milik orang lain.
Baru setelah kami menikah beliau membuka kembali aktivitas korporasinya yang
sempat vakum.
Di tengah kesibukan saya, saya jadi teringat
kembali impian melanjutkan studi. Betapa tidak, setiap hal yang saya kerjakan
berkaitan dengan ilmu manajemen yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya
berpikir akan meneruskan mimpi melanjutkan S2.
Tidak banyak yang saya lakukan untuk mengisi
waktu luang. Saya memanfaatkan betul fasilitas internet yang ada di kantor. Dan
saya pun sudah punya modem. Setiap saat saya online. Saya mencari informasi
tentang ini dan itu. Saya jadi ingin punya toko online untuk berjualan. Karena
saya tahu, saya tidak mungkin berjualan seperti saat saya kuliah dulu. Saya
tidak mungkin lagi menawarkan barang dagangan ke teman-teman saya, karena untuk
bisa pergi keluar rumah saya harus ditemani mahram.
Dan saya terinspirasi oleh Khadijah ra, pebisnis
perempuan yang menjalankan usahanya dari rumah. Khadijah ra mengutus Maisarah
untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Setelah itu meminta Rasulullah SAW
yang kala itu belum menjadi suaminya untuk menjadi pimpinan kafilah dagangnya.
Saya melihat-lihat beberapa toko online. Saya
minder. Karena tidak punya ilmu sama sekali untuk berjualan di internet. Yang
saya punya adalah ilmu membuat blog sederhana yang diajarkan oleh sahabat saya.
Akhirnya saya buat blog sederhana sebagai toko pertama saya. Saya tidak yakin akan
ada pengunjung. Beberapa bulan kemudian datang pelanggan pertama. Setelah itu
hampir tidak ada yang berkunjung.
Di penghujung tahun 2011 saya memutuskan untuk
membeli domain dan membuat toko online betulan. Saya begadang hampir setiap
malam. Saya minta rekomendasi nama. Suami saya mengusulkan www.grosirherbalsunnah.com, dan
sekarang website itu sudah masuk tahun ke-2.
Kemudian beberapa bulan setelahnya saya membuat
toko online kedua, menjual jasa travel umroh. Di toko saya yang kedua saya
fokus menjual paket umroh hemat. Paket itikaf Ramadhan tanpa makan. Murah
meriah. Ini alamatnya http://backpacker-umroh.blogspot.com.
Kalau saya flash back, saya suka senyum-senyum
sendiri. Tidak akan pernah mengira saya akan menjadi seorang penjual online.
Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Dan saya optimis saya bisa memperoleh
peluang untuk mengembangkan kemampuan saya. Meskipun jalannya berliku, tapi
saya senang dengan semua yang sudah saya peroleh saat ini. Tinggal ke depannya
saya akan mengatur untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi.
Saya amati penjual herbal online sudah
menjamur. Saya sendiri adalah pemain baru. Tapi saya optimis. Saya menjalankan
bisnis ini dengan berbekal sedikit pengetahuan mengenai keutamaan herbal dan
pengobatan cara Nabi SAW.
Untuk umroh, saya melihat sekian banyak travel
menjual jasa umroh. Tapi hanya beberapa yang menawarkan paket backpacker. Saya
berharap program ini bisa berjalan dengan baik. Saya optimis bisa merebut pasar
umroh hemat. Setelah umroh pertama, saya merasa rindu untuk dapat kembali ke
sana. Ini bukan hal yang aneh, karena setiap peziarah al haramain pastilah pulang
ke tanah air dengan memendam rasa rindu untuk bisa kembali berziarah ke sana.
Berbekal rasa rindu itu saya berusaha agar dapat berangkat lagi ke sana. Orang
pasti akan berkata, suami saya akan segera memberikan jatah untuk pergi kesana,
karena suami saya adalah pemilik travel. Tapi usaha kami ini tergolong masih
baru. Dan saya tidak ingin menunggu terlalu lama untuk diberangkatkan dengan
gratis. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.
Saya sangat yakin, ketika seseorang
bersungguh-sungguh dalam kebaikan Allah SWT pasti akan membukakan kemudahan
dari arah yang Ia kehendaki.
Optimis !
Sikap optimis, saya rasa dibutuhkan bukan hanya oleh seorang entrepreneur. Semua orang, apapun profesinya, dalam hal kebaikan harus s...
Haryani Qonita Abidatullah
Minggu, 25 November 2012



