Inspirasi Wirausaha Muslim

Di blog ini, penulis mengajak sesama Muslim untuk saling berbagi, menginspirasi dan menyemangati dalam meraih cita-cita terutama di bidang wirausaha membangun perekonomian yang sesuai dengan syariat.
Menu
Go! Muslimpreneur

Optimis !



Sikap optimis, saya rasa dibutuhkan bukan hanya oleh seorang entrepreneur. Semua orang, apapun profesinya, dalam hal kebaikan harus selalu optimis.



Saya telah menyaksikan beberapa orang teman memperoleh kemenangan dari hasil sikap optimis selama menggapai yang dicita-citakan. Saya salut dengan mereka, karena untuk bisa selalu bersikap optimis tidak mudah. Saya sendiri sempat mengalami keterpurukan ketika gambaran masa depan tidak nampak secara jelas.

Beberapa bulan menjelang sidang skripsi saya bergabung sebagai relawan koperasi desa tempat saya tinggal.  Niat awal sekedar mencari kegiatan, karena di kampus hanya tinggal bimbingan skripsi dan sudah lepas dari organisasi kemahasiswaan. Ternyata walau kedudukan saya hanya sebagai relawan di sana, saya diberikan insentif. Jumlahnya tidak banyak, hanya 225 ribu per bulan. Namun dalam hati selalu mengharapkan jatah di setiap awal bulan. Uangnya bisa saya pergunakan untuk ongkos bolak-balik hunting sumber rujukan di beberapa perpustakan untuk bahan menyusun skripsi saya, begitu pikiran saya. Saya pun tidak masalah ketika harus potong gaji lantaran uang koperasi hilang entah kemana, pernah hilang 50 ribu, pernah juga hilang 100 ribu. Ukuran yang besar untuk saya. Saya tidak mengerti, memang banyak yang bilang di desa saya banyak yang menjalankan praktek berbau klenik. Saya sedang futur waktu itu, jadi mungkin penjagaan dirinya kurang.

Bidang kegiatan saya adalah keuangan, adapun job desc saya kala itu adalah menjadi asisten Unit Pelaksana Keuangan untuk urusan administrasi pembukuan. Sehari-harinya saya bertugas stand by di kantor koperasi sesuai jadwal yang diberikan. Dalam 1 minggu, saya diberikan jadwal piket 3 hari, masuk jam 8 dan pulang jam 1 siang.

Yang saya kerjakan begitu datang di pagi hari adalah membersihkan ruangan dan menyiapkan pemberkasan yang diperlukan untuk mencatat transaksi keuangan yang terjadi selama hari itu. Selama 5 jam, pekerjaan saya hanya menunggu anggota koperasi yang akan menyetor angsuran pinjaman atau yang mau menabung di koperasi.

Ketika ada transaksi, saya membuatkan slip masuk dan dicatat di cash flow harian. Ini menarik, karena saya belajar beberapa hal penting mengenai pembukuan di sini. Selama saya mempelajari akuntansi di SMEA dan beberapa SKS di bangku kuliah tidak mendapatkan praktek pembukuan sederhana yang efektif dan efisien. Sebenarnya saya menikmati pekerjaan saya. Namun lama kelamaan saya merasa jenuh. Ketika kantor sepi, saya hanya bertemankan komputer. Iseng-iseng menulis puisi sambil diiringi lagu-lagu Ebiet Biet A yang diputar berulang-ulang. Atau nge-game.….

Ketika datang jadwal rapat antar tokoh koperasi, saya senang karena terlihat antusiasme warga untuk hadir dan berpartisipasi. Saya tidak ada pikiran apa-apa. Saya senang saja ketika tahu kalau ada rapat para anggota rapat diberi insentif per orang 50 ribu.

Saya juga senang ketika ada pekerjaan tambahan seperti menyusun proposal ketika pemerintah akan mengeluarkan dana pengembangan di setiap desa. Saya tidak memikirkan apakah pekerjaan ini menguntungkan atau tidak, yang penting saya bisa membantu. Itu saja… Tapi, ketika dijanjikan bahwa kelak ketika dana dari pemerintah cair saya akan diberi insentif tambahan untuk pekerjaan-pekerjaan yang saya kerjakan, saya senang. Dan tentu saja berharap saya akan mendapatkan persenan lebih banyak daripada anggota lain, karena memang saya mengerjakan beberapa hal penting sendirian.

Dan ternyata saya terlalu muluk.  Pekerjaan yang saya kerjakan yang menurut saya paling banyak itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan pekerjaan para tokoh masyarakat dalam menggalang kebersamaan masyarakat menggarap proyek pemerintah di lapangan. Walaupun saya tidak melihat kerasnya usaha mereka dalam mempersiapkan semuanya. Mungkin saat itu saya terlalu banyak berpikiran negatif, tapi saya syukuri saja, karena niat awalnya hanya untuk membantu… Tidak mengapa, Alhamdulillah jadi punya tambahan, lagi-lagi demi ongkos penyusunan skripsi.

Ketika ujian sidang sudah dekat, saya rasa saya harus lebih fokus mengurusi skripsi saya. Saya tidak ingin terlalu terlibat di koperasi desa, karena entah mengapa saya merasa terlalu diandalkan, jadi lama kelamaan menjadi beban. Ini tidak baik, karena pasti ke depannya saya akan merasa tidak nyaman. Saya putuskan untuk mengundurkan diri. Walaupun sebenarnya saya masih memerlukan tambahan pemasukan untuk menyelesaikan skripsi saya.

Tiba sidang skripsi saya bersyukur mendapatkan IPK tertinggi di antara teman-teman satu program studi. Bahkan untuk satu jurusan. Tapi saya sedih karena IPK saya sebetulnya turun, harusnya kalau sidangnya bisa lebih bagus nilai IPK saya bisa lebih tinggi lagi, mungkin bisa tertinggi se-kampus. Saya akui, sebenarnya saya kurang sungguh-sungguh dalam bersyukur… Saya masih menyesal karena terlalu idealis dalam menyusun skripsi sehingga tidak memperhatikan benar teori apa saja yang saya kutip di skripsi saya. Bayangkan, untuk mendefinisikan 1 istilah saja saya mengambil teori dari beberapa buku. Saking banyaknya, saya bahkan tidak ingat untuk menghapal satu di antaranya. Saya berpikir ketika presentasi sidang, saya akan banyak membuka skripsi, tapi ternyata ketika sidang saya diminta untuk menutup skripsi saya dan diberi waktu presentasi hanya sekitar 5 menit, tanpa penjelasan bertele-tele. Yang ada semua blank, 6 bulan bolak-balik perpustakaan hasilnya jauh dari memuaskan. Saya hanya memperoleh nilai B untuk skripsi saya, padahal saya berharap nilainya A, kalau bisa A+, hehe.  Saya PD karena banyak rujukan yang saya kutip, judulnya pun up to date dan skripsinya tipis. Tapi ya bagaimana lagi, seorang calon sarjana S1 harus mengalah di hadapan para doktor dan kandidat doktor. Ketika hasilnya diumumkan saya menangis, bukan menangis terharu, tapi menangis sedih, saya teringat perjuangan ketika menyusun skripsi. Ibunda yang paling saya ingat, beliau menjadi sponsor utama dalam penyusunan skripsi saya.

Semua segera berlalu. Sampai tiba hari wisuda, saya tidak begitu gembira. Baju toga baru saya terima di hari H. Ngga semangat ikut gladi resik. Hari itu pun bagi saya biasa saja. Lagi-lagi saya tidak bersungguh-sungguh dalam bersyukur.

Selepas wisuda saya ditawari oleh seorang sahabat kakak saya untuk bekerja di pabrik tekstil dekat dengan rumah sebagai staff keuangan. Katanya gaji awalnya sekitar 2/3 juta. Saya tahu saya tidak akan tertarik. Tapi saya tidak enak untuk menolak, akhirnya saya datang untuk wawancara. Yang membuat saya sakit hati adalah sikap cuek dari orang yang katanya adalah bagian HRD itu. Ogah-ogahan ketika mewawancara. Dan dia memberitahu bahwa setiap yang bekerja di sana harus mengikuti semua aturan yang sudah dibuat. Termasuk tidak boleh mengenakan rok bagi perempuan. Saat itu saya mengenakan gamis. Saya bingung dan sedih. Saya berjanji untuk tidak menerima tawaran bekerja di sana. Berapapun besar gaji yang diberikan dan betapapun besar peluang untuk bisa diterima.

Setelah itu saya mencari informasi lowongan kerja di Koran daerah setiap hari Sabtu. Saya juga masukkan lamaran ke tempat-tempat yang membuka lowongan. Sempat saya dipanggil oleh sebuah radio swasta di Bandung untuk menjadi staff riset. Saya menjalani tes tulis, tapi tidak sampai wawancara. Mungkin saya memang tidak bakat jadi pe-riset. Saya juga pernah interview di sebuah perusahaan kontraktor, tapi tidak sampai diterima bekerja. Juga pernah meminta untuk dimasukkan lamaran sebagai dosen di sebuah PTS di Bandung ke salah seorang dosen yang mengajar di sana. Tapi gayung tidak bersambut. Saya juga yang bodoh, karena berharap pada orang yang tidak dikenal. Dan memang saya punya kelebihan apa sehingga begitu PD nya mengajukan lamaran menjadi dosen di sebuah PTS terkenal. Apalagi orang yang saya minta rekomendasinya itu punya juga anak yang baru lulus kuliah tapi tidak bisa dengan mudah melamar menjadi dosen. Saya jadi sedih, tapi tidak patah arang. Terus saya berusaha mencari peluang.

Sampai suatu hari saya diminta datang untuk presentasi dan wawancara di sebuah universitas swasta baru di Bandung. Saya senang bukan main. Tapi saya tidak tahu tema apa yang akan saya angkat sebagai bahan presentasi saya. Jam 3 dini hari saya putuskan memilih tema tentang membangun bisnis. Saya anggap tema ini paling mudah. Saya ambil bahan-bahannya dari buku Menggagas Bisnis Islami karya M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijaya.

Ketika diberikan pilihan akan mengajar mata kuliah apa, saya pilih di antaranya adalah Manajemen, Entreprenurship, Innovation and Creativity dan beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan Manajemen. Saya buka presentasi dengan sederhana, dan saya berusaha untuk tampil percaya diri.

Baru setelah sekitar 1 bulan saya dipanggil untuk mengajar. Saya hampir putus asa karena dijanjikan hanya menunggu kabar selama 3 hari, ternyata perlu waktu sampai 1 bulan kemudian. Tidak ada kontrak, saya diangkat menjadi tenaga pengajar part time..

Hari pertama saya berusaha untuk tidak nervous. Saya yakinkan kalau saya mampu menerima amanah ini. Yang membuat saya merasa kurang percaya diri yaitu ketika harus mengajar kelas karyawan yang mahasiswanya terdiri dari mayoritas bapak-bapak yang usianya jauh di atas saya. Saya hanya bisa menyampaikan teori. Karena secara praktek saya masih minim ilmu. Seharusnya saya lah yang banyak belajar dari mereka. Alhamdulillah mereka mau membantu saya. Saya pikir, seandainya universitas tersebut punya sedikit kemampuan meng-hire tenaga dosen yang sesuai pasti lah tidak akan merekrut saya sebagai tenaga pengajar J. Saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan.

Di semester kedua saya diberi amanah mengajar satu kelas yang sepengetahuan saya terdiri dari anak-anak muda yang sudah berpengalaman di dunia entrepreneur. Ketika saya masuk di kelas lain saya PD saja walaupun sering tidak dihiraukan lantaran kebanyakan jurusan yang saya pegang itu jurusan teknik yang mayoritas adalah mahasiswa dan mereka tidak cenderung untuk mempelajari ilmu entreprenurship. Tapi di kelas yang satu ini saya merasa sedikit minder.

Saya tidak membiarkan rasa minder mendominasi pikiran saya, karena sambil mengajar saya terus mencari-cari informasi mengenai seminar-seminar seputar bisnis. Saya yakin saya bisa. Sebenarnya saya berharap memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi saya, namun kesempatannya belum ada. Dan saya sedih karena kegiatan-kegiatan yang saya ikuti kebanyakan adalah gratis, sementara yang bayar saya tidak bisa ikut karena keterbatasan dana. Saya dibayar per SKS. Untuk menambah uang bulanan saya memutuskan untuk bekerja di tempat lain.  Saya melamar ke playgroup, ke universitas swasta lain dan terakhir ke lembaga kursus komputer. Di tempat terakhir ini saya diterima mengajar. Upahnya pun tidak seberapa. Dihitung per jam mengajar. Tapi saya menikmatinya, karena ambisi saya memang menguasai ilmu komputer, walaupun untuk materi yang paling mudah.

Mungkin kalau teman-teman saya tahu saya digaji sangat kecil, mereka akan heran mengapa saya mau menerima pekerjaan-pekerjaan itu. Saya pun tidak tahu mengapa saya begitu bahagia menjadi tenaga part timer. Saya bersyukur bisa mengajar di sebuah PTS. Saya melihatnya sebagai peluang. Entah peluang apa. Karena saya juga punya teman yang sama-sama menjadi dosen di PTS. Tapi profesinya sebagai dosen hanya sebagai sambilan. Pekerjaan utamanya adalah mengajar anak-anak di lembaga kursus. Dari tempat mengajar kursus dia menerima gaji lebih besar. Menurut saya dia tidak melihat kesempatan mengajar di PTS sebagai sebuah peluang yang berarti.  Mungkin karena terikat kontrak dengan lembaga kursus tempat dia mengajar, jadi dia tidak bisa mengutamakan pekerjaannya mengajar di PTS.

Saya berpikir pengalaman saya mengajar bisa dijadikan bekal mengajukan beasiswa S2. Saya sempat underestimate ketika seorang teman mengatakan dia bahkan sudah pernah berjumpa dengan pemilik universitas tempat saya mengajar. Saya merasa terlalu keras berjuang di kelas ecek-ecek. Tapi saya tidak punya pilihan yang lebih baik dari apa yang sedang saya kerjakan. Saya menjadi part-timer yang bebas. Dan saya tidak terikat kontrak.

Karena satu sebab, saya memutuskan untuk berhenti mengajar kursus komputer. Praktis penghasilan pun berkurang. Saya mengajukan beasiswa. Tapi belum berhasil.

Suatu saat kampus tempat saya mengajar mengajukan akreditasi. Tim akreditasi PTS datang ke kampus untuk memberi penilaian. Saya diundang untuk hadir sebagai perwakilan dosen mata kuliah entrepreneurship. Saya hanya bisa tersenyum, di antara dosen-dosen yang hadir saat itu, saya lah yang masih bau kencur. Saya berharap bisa segera melanjutkan S2.

Setelah masa 2 semester mengajar, saya ditawari untuk menjadi tenaga pengajar tetap. Saya senang bukan main. Tapi ada syarat, katanya saya harus terlebih dahulu melanjutkan studi. Saya bilang saja saya memang sedang mengajukan beasiswa, mudah-mudahan diterima.

Saya tidak yakin, apakah saya benar-benar akan mendapatkan beasiswa S2. Sampai ada peluang mengajar di sebuah yayasan di Bogor. Saya yakin di sana adalah jalan saya mengabdikan diri lebih jauh.

Sebetulnya tidak ada yang benar-benar saya sukai dari tempat mengajar saya yang baru kecuali satu hal, yaitu kesempatan menghafal al-Qur’an, yang tidak saya dapatkan selama ini. Ketika didaftarkan kuliah S2 dengan biaya dari yayasan saya tidak terlalu senang, karena sebenarnya saya sangat ingin melanjutkan kuliah setidaknya di universitas negeri, kalau tidak ke luar negeri, lebih keren…. Karena biayanya dari yayasan, saya tidak bisa menentukan sendiri di mana saya akan melanjutkan kuliah.

Setelah beberapa waktu saya baru tersadar, selama ini saya hanya mengejar ilmu dunia. Tidak sempat mempelajari ilmu al-Qur’an. Betapa malunya saya.

Saya tidak lagi berambisi untuk S2 untuk sementara waktu. Setelah menikah saya fokus membantu usaha suami. Waktunya saya mempraktekkan ilmu yang sudah saya pelajari semasa kuliah. Menyusun laporan keuangan, mengatur standar operasi kerja, membuat surat kontrak dan lain sebagainya.

Saya belajar banyak dari pekerjaan saya ini. Dan saya banyak mengamati kegiatan suami saya. Suami saya merintis usahanya dari nol. Latar belakang pendidikannya adalah Bahasa Arab. Sebelumnya sempat juga menjadi santri pondok pesantren tahfidz, pondok pesantren khusus program menghafal al-Qur’an. Untuk ilmu agama insyaAllah beliau dapat diandalkan. Dalam mencari nafkah awalnya beliau mengajar, tapi jiwa bisnisnya lebih kuat, sehingga sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu beliau memutuskan membangun sebuah perusahaan.

Perusahaan yang dibangun hanya bertahan beberapa tahun, setelah itu beliau putuskan menjalankan usaha milik orang lain. Baru setelah kami menikah beliau membuka kembali aktivitas korporasinya yang sempat vakum.

Di tengah kesibukan saya, saya jadi teringat kembali impian melanjutkan studi. Betapa tidak, setiap hal yang saya kerjakan berkaitan dengan ilmu manajemen yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya berpikir akan meneruskan mimpi melanjutkan S2.

Tidak banyak yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Saya memanfaatkan betul fasilitas internet yang ada di kantor. Dan saya pun sudah punya modem. Setiap saat saya online. Saya mencari informasi tentang ini dan itu. Saya jadi ingin punya toko online untuk berjualan. Karena saya tahu, saya tidak mungkin berjualan seperti saat saya kuliah dulu. Saya tidak mungkin lagi menawarkan barang dagangan ke teman-teman saya, karena untuk bisa pergi keluar rumah saya harus ditemani mahram.

Dan saya terinspirasi oleh Khadijah ra, pebisnis perempuan yang menjalankan usahanya dari rumah. Khadijah ra mengutus Maisarah untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Setelah itu meminta Rasulullah SAW yang kala itu belum menjadi suaminya untuk menjadi pimpinan kafilah dagangnya.

Saya melihat-lihat beberapa toko online. Saya minder. Karena tidak punya ilmu sama sekali untuk berjualan di internet. Yang saya punya adalah ilmu membuat blog sederhana yang diajarkan oleh sahabat saya. Akhirnya saya buat blog sederhana sebagai toko pertama saya. Saya tidak yakin akan ada pengunjung. Beberapa bulan kemudian datang pelanggan pertama. Setelah itu hampir tidak ada yang berkunjung.

Di penghujung tahun 2011 saya memutuskan untuk membeli domain dan membuat toko online betulan. Saya begadang hampir setiap malam. Saya minta rekomendasi nama. Suami saya mengusulkan www.grosirherbalsunnah.com, dan sekarang website itu sudah masuk tahun ke-2.

Kemudian beberapa bulan setelahnya saya membuat toko online kedua, menjual jasa travel umroh. Di toko saya yang kedua saya fokus menjual paket umroh hemat. Paket itikaf Ramadhan tanpa makan. Murah meriah. Ini alamatnya http://backpacker-umroh.blogspot.com.

Kalau saya flash back, saya suka senyum-senyum sendiri. Tidak akan pernah mengira saya akan menjadi seorang penjual online. Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Dan saya optimis saya bisa memperoleh peluang untuk mengembangkan kemampuan saya. Meskipun jalannya berliku, tapi saya senang dengan semua yang sudah saya peroleh saat ini. Tinggal ke depannya saya akan mengatur untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi.

Saya amati penjual herbal online sudah menjamur. Saya sendiri adalah pemain baru. Tapi saya optimis. Saya menjalankan bisnis ini dengan berbekal sedikit pengetahuan mengenai keutamaan herbal dan pengobatan cara Nabi SAW.

Untuk umroh, saya melihat sekian banyak travel menjual jasa umroh. Tapi hanya beberapa yang menawarkan paket backpacker. Saya berharap program ini bisa berjalan dengan baik. Saya optimis bisa merebut pasar umroh hemat. Setelah umroh pertama, saya merasa rindu untuk dapat kembali ke sana. Ini bukan hal yang aneh, karena setiap peziarah al haramain pastilah pulang ke tanah air dengan memendam rasa rindu untuk bisa kembali berziarah ke sana. Berbekal rasa rindu itu saya berusaha agar dapat berangkat lagi ke sana. Orang pasti akan berkata, suami saya akan segera memberikan jatah untuk pergi kesana, karena suami saya adalah pemilik travel. Tapi usaha kami ini tergolong masih baru. Dan saya tidak ingin menunggu terlalu lama untuk diberangkatkan dengan gratis. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.

Saya sangat yakin, ketika seseorang bersungguh-sungguh dalam kebaikan Allah SWT pasti akan membukakan kemudahan dari arah yang Ia kehendaki.


Sikap optimis, saya rasa dibutuhkan bukan hanya oleh seorang entrepreneur. Semua orang, apapun profesinya, dalam hal kebaikan harus s...
Haryani Qonita Abidatullah Minggu, 25 November 2012
Go! Muslimpreneur

Internet Marketing Jadi Booming?



Ketika magang di sebuah perusahaan mobil dari Jerman, saya membayangkan enaknya menjadi pekerja lepas di depan layar komputer dan menjalin hubungan dengan orang-orang secara online. Kala itu untuk mendapatkan akses internet di sekolah harus membayar sewa per jam. Koneksinya lambat, dan berebut. Alhamdulillah ketika magang selama 4 bulan penuh, di kantor tempat saya magang, saya bisa menikmati fasilitas internet gratis dan lumayan cepat koneksinya. Walaupun hanya sebatas jam istirahat, karena pada jam kerja semua komputer digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Saya memang berambisi pada komputer dan internet. Ketika SMP, saya dengan berbekal nilai Bahasa Inggris 6 di raport, mengambil les Bahasa Inggris dengan keinginan sendiri. Di saat yang bersamaan saya ingin sekali les komputer, namun sayang anggaran biaya les dari orangtua hanya untuk memilih salah satunya saja…

Jadi ketika saya mendapat informasi ada promo pelatihan internet gratis dari salah satu harian daerah di kota Bogor - tempat saya bersekolah dulu, saya senang sekali. Dalam pelatihan itu diperkenalkan istilah-istilah dalam dunia internet, sampai situ saya hanya faham internet sebagai media membuat email untuk korespondensi, sebagai sarana mencari sesuatu dan yang meng-asyikkan bagi saya kala itu adalah melalui internet saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang belum saya kenal. Di tahun 2002 masih trend chatting via mIRC dan saya pun mengenal istilah ASL (Age, Sex, Location) dan GTG (get to go).

Saya termasuk yang paling PD dalam pelajaran komputer. Saya masuk lab komputer paling pertama dan duduk di bangku paling depan, dekat dengan guru. Saya tidak ragu-ragu dalam mengoperasikan komputer, sementara teman-teman kala itu banyak yang tidak berani untuk sekedar mencoba-coba. Ketika sudah sampai pada praktek mengakses internet, saya senang bukan main. Apalagi ketika ada tugas untuk menelusuri bahan pelajaran di internet. Saya merasa tertantang.

Sampai pada saat kuliah internet bagi saya hanya sebatas sarana untuk mencari informasi yang saya perlukan. Tidak lebih. Bolak-balik ke warnet untuk mencari tugas kuliah. Dari zaman masih menggunakan disket sampai punya flashdisk dan MP4. Semua media penyimpanan itu penuh dengan data hasil pencarian tugas kuliah. Sekali-kali chating dan email-email-an, hanya itu…

Selepas kuliah, seorang sahabat mengajarkan saya membuat blog. Mengajak saya belajar berbagi melalui tulisan sederhana. Ini menarik. Dan dia membantu saya membuat akun facebook. Oh ya, saya memang kurang gaul saat itu…

Saya belajar menjadi seorang blogger dan saya promosikan blog sederhana itu pada semua orang yang bisa saya beritahu. Tanpa malu. Padahal hanya blog sederhana dengan konten sederhana. Blog itu adalah blog ini

Saya belum banyak tahu tentang ilmu blogging, sampai di tahun 2010, setelah menikah dan diberi kesempatan mengakses internet dengan leluasa, saya mendapatkan ilmu bahwa internet bukan hanya sekedar email, searching dan chatting.

Bisa mendapatkan uang dari internet…

 Ini yang paling seru, seperti yang saya idam-idamkan sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu, ketika magang di perusahaan mobil Jerman. Duduk di depan komputer dengan santai, mengotak-atik sedikit dan jreengg,,, kita akan mendapatkan uang dari internet. Dulu saya tidak mengerti bagaimana caranya.

Bisnis Online
Pertama membaca aneka penawaran bisnis online, saya sangat tergiur, dengan hanya bermodal sekian ratus ribu rupiah bisa dengan cepat mendapatkan keuntungan berkali lipat. Atau dengan membeli semacam e-book kita akan mendapatkan keuntungan tertentu. Tapi saya bukan orang yang sanggup menjalankan sistem seperti ini.

Mengetik Captctha dan Mengerjakan Survey
Saya pernah larut dalam dua jenis pekerjaan yang melelahkan ini. Dari sekedar iseng menjadi kecanduan. Saya belajar mengetik sejak usia SD dengan mesin tik portable milik Ayah saya. Ketika SMK tidak canggung lagi dalam mengetik, sekalipun mesin tik yang digunakan lebih besar, yaitu mesin tik manual. Jari-jari akan sakit karena terjepit tuts kalau salah pencet. Saya bersyukur masuk di era digitalisasi canggih, eranya komputer dan laptop. Dengan komputer dan laptop saya bisa lebih mudah mengasah kemampuan mengetik. Ketika mengerjakan job mengetik captcha, saya melakukannya dengan serius tapi santai karena saya sudah terbiasa mengetik. Tapi keseriusan itu menyita waktu istirahat saya, dan hasilnya pun tidak seberapa. Akhirnya saya putuskan untuk meninggalkan pekerjaan ini, juga dengan pekerjaan mengisi survey. Saya pikir saya harus melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekedar mengetik captcha dan mengerjakan survey. J

Mengelola Toko Online

Saya ingat, kata suami saya, dari 10 orang shahabat Nabi SAW yang dijanjikan surga 9 orang di antaranya adalah pedagang dan hanya 1 orang yang menjadi alim ulama, yaitu Ali bin Abi Thalib ra.

Abu Bakar ra, Utsman bin Affan ra, Abdurrahman bin Auf ra adalah di antara sahabat Nabi SAW yang dijanjikan surga dan mereka berprofesi sebagai pedagang. Bagaimana Abu Bakar sering membebaskan budak dari hartanya sendiri. Dan yang paling diingat dalam sejarah adalah upaya Abu Bakar ra dalam pembebasan Bilal bin Rabah ra dari majikannya Umayyah bin Khalaf. Juga ketika dalam suatu peperangan, Umar akan menyerahkan separuh dari hartanya untuk digunakan di jalan Allah dengan maksud menyamai Abu Bakar dalam hal berinfaq. Namun ternyata Abu Bakar ra telah lebih dulu menyerahkan seluruh hartanya untuk digunakan di jalan Allah.

Pun begitu dengan Utsman bin Affan ra dan Abdurrahman bin Auf ra yang keduanya adalah pedagang. Utsman bin Affan ra telah membeli sumur kehidupan bagi kaum Muslim di Madinah dan menginfakkan hartanya untuk Kaum Muslimin di perang Tabuk. Abdurrahman bin Auf menyedekahkan 700 ekor unta beserta seluruh muatannya untuk Kaum Muslimin. Mereka semua adalah sosok hartawan dan dermawan. Mereka adalah pedagang….

Ketika kembali mengingat kisah-kisah tersebut, saya kembali memusatkan pikiran untuk berjualan seperti semula. Tapi bukan sekedar berjualan secara konvensional. Saya akan menggunakan fasilitas internet secara penuh. Ini bukan hal yang baru di tahun-tahun belakangan. Mungkin saja saya termasuk orang yang terlambat mengetahuinya. Tapi saya rasa masih perlu dicoba dan ditekuni.

Mempromosikan barang dagangan di internet. Istilahnya internet marketing. Mungkin tidak sesederhana itu penjelasan mengenai internet marketing. Saya hanya menyimpulkan dari apa yang saya lakukan. Banyak cara. Awalnya saya tidak PD memperkenalkan dagangan di facebook. Saya terpusat pada website pribadi dan maksimalisasi situs jual beli yang ada. Saya membeli e-book sederhana mengenai internet marketing. Untuk mendukung pengembangan internet marketing yang saya jalankan.

Saat duduk di bangku kuliah, saya hanya tahu internet marketing adalah memasarkan produk/jasa di internet. Just it. Tanpa pernah tahu aplikasinya seperti apa…

Saya pun awalnya sekedar menggunakan blog sebagai sarana menulis artikel-artikel sederhana yang sifatnya pribadi. Saya senang ketika melihat statistik blog ada pengunjung yang berasal dari luar Indonesia. Saking senangnya saya berharap bisa membeli domain pribadi. Akhirnya saya menggunakan domain pribadi untuk sebuah blog sederhana. Saya masih belum PD. Padahal yang merespon sudah cukup banyak, dari teman-teman dan sesama blogger yang sekedar blogwalking.

Di saat yang sama saya membuat blog sederhana untuk berjualan. Sangat-sangat sederhana dengan domain gratisan. Tapi rezeki tidak kemana, dengan blog sesimpel itu toko saya mendapatkan  peng-laris. Satu, dua, tiga orang pembeli. Terus bertambah walaupun intensitas pengunjung toko sangat sedikit. Baru kemudian di penghujung tahun 2011 saya memutuskan membuat website dengan desain seperti layaknya toko online. Saya sempat hendak menggunakan jasa seseorang dalam men-design web. Tapi hasilnya kurang memuaskan. Kemudian dengan semangat dan dorongan dari suami saya mencari tips-tips hingga mengetahui beberapa ilmu dasar dalam pengembangan website. Sampai akhirnya jadilah website toko herbal yang saya kelola hingga saat ini, www.grosirherbalsunnah.com.

Website saya yang satu ini di link ke beberapa web directori dan mesin pencari. Juga di link ke situs pemeringkatan agar mudah mengetahui posisi website secara global. Saya sempat girang ketika website saya masuk ke urutan 7 jutaan. Saya sendiri keheranan, karena merasa tidak menguasai banyak ilmu blogging. Pembeli datang dan memesan beberapa produk. Masalah keuntungan saya tidak terlalu memikirkan, karena saya ingin di awal saya mendapatkan kepercayaan dari konsumen. Setelah statistic web mencapai angka 10 juta-an, saya bertambah senang. Padahal semakin hari saya semakin mengurangi barang dagangan saya, karena saya ingin lebih spesifik dalam menjual. Saya hanya akan menjual produk-produk yang saya sudah menjalin kerjasama dengan produsennya. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada yang pesan produk milik produsen lain akan saya carikan.

Yang wajib selalu dilakukan oleh pemilik toko online tentu saja online tidak hanya sekedar mengecek tokonya, tetapi juga eksis di layanan chating seperti Yahoo Messanger atau akun jejaring sosial seperti facebook. Ini akan memudahkan konsumen bertanya mengenai produk mulai dari kesediaan barang dan spesifikasi produk lebih lanjut.

Saya belakangan baru tahu bahwa di tahun 2013 internet marketing akan menjadi booming. Yang saya amati memang sejak tahun 2011 sudah bermunculan para penjual yang menjajakan barang dagangannya di internet. Pakaian, aksesoris, gadget, peralatan elektronik kantor dan rumah tangga, obat-obatan, herbal, buku, sepatu, jasa pembuatan website, jasa terjemah bahasa asing, sampai barang-barang kecil seperti keset dan lap pel juga dijual secara online.

Saya termasuk yang beruntung bisa nyelip di urutan teratas mesin pencari google untuk website www.grosirherbalsunnah.com dengan keyword “Hulbah”, herbal booster ASI. Juga berada di page pertama untuk blog http://backpacker-umroh.blogpsot.com dengan keyword “Umroh Backpacker”. Sekarang toko online sudah semakin menjamur. Saya iri melihat orang-orang yang sudah lebih dulu mengenal dan mengaplikasikan internet marketing sejak tahun 2007 atau 2008 atau 2009. Tenggang waktu lebih dari 3 tahun dengan kekuatan promosi yang kontinu akan memudahkan toko online masuk ke urutan teratas mesin pencari untuk kata kunci tertentu.

Tapi saya harus tetap optimis. Saya yakin setiap orang punya jalan rejekinya masing-masing. Saya akan terus melangkah. Karena saya merasa saya sudah menemukan dunia saya. Suatu saat terjadi kiamat teknologi, mungkin saja, tapi untuk saat ini saya akan terus mengembangkan minat saya ini. Saya yakin masih ada peluang. Bagaimana dengan Anda?



Ketika magang di sebuah perusahaan mobil dari Jerman, saya membayangkan enaknya menjadi pekerja lepas di depan layar komputer dan menj...
Haryani Qonita Abidatullah Sabtu, 10 November 2012
Go! Muslimpreneur

Sekilas Tentang Investasi Dinar Emas



Dalam berwirausaha setiap orang memiliki keputusan yang berbeda dalam mengelola modal usaha yang dimilikinya.  Ada yang keseluruhan dana yang dimilikinya untuk dikelola sebagai modal kerja utama. Ada pula yang menyisakan sebagian dari dana yang dimilikinya untuk diinvestasikan di bidang lain. Atau ketika usaha telah maju, seseorang akan berpikir antara mengembangkan usahanya atau menginvestasikan sebagian keuntungan di sektor lain yang dikelola oleh orang lain.

Dulu sekali saya tidak mengenal istilah investasi. Yang saya tahu adalah menabung. Seperti umumnya anak sekolahan, mulai sejak sekolah dasar saya diajarkan untuk menabung sebagian uang jajan di sekolah. Kemudian ketika beranjak remaja, saya menabung di koperasi sekolah dan juga di bank, waktu itu Bank Lippo. Setelah masuk sekolah tingkat atas dan mulai mengenal kajian, saya memindahkan tabungan saya yang ada di bank konvensional ke bank syariah, pilihan saya jatuh pada Bank Mandiri Syariah. Setelah mendapatkan kajian lebih lanjut, dengan idealisme saya kala itu, saya memutuskan untuk menarik dana yang saya miliki di bank syariah untuk disimpan dalam bentuk syirkah di al-Amin Grup, sebuah toko Muslim di Bogor. Tujuan saya adalah agar dana yang saya miliki bebas dari riba, karena kerjasama syirkah Al-Amin Grup menawarkan bagi hasil kepada para investornya. Dalam surat pernyataan kerjasama dijelaskan bahwa ketika usaha toko mendapatkan untung, maka investor berhak mendapatkan bagian sekian persen dan untuk toko sebagai pengelola sekian persen. Sementara jika terjadi kerugian akibat kesalahan manajemen, maka pihak investor tidak dikenakan kewajiban menanggung kerugian namun tidak mendapatkan keuntungan karena rugi. Namun ketika kerugian terjadi akibat bencana alam maka kerugian ditanggung bersama oleh pihak investor dan pengelola.

Al-Amin Grup ini memiliki salah satu toko yang letaknya persis di samping terminal bus Baranangsiang – Bogor.  Bidang usahanya adalah buku, pakaian Muslim dan aksesoris. Sementara pusatnya terletak di sekitaran kampus IPB Darmaga. Dulu semasa SMA sampai waktu kuliah tingkat awal saya sering ke tempat ini untuk berbelanja buku-buku Islam.

Sekarang saya bukan lagi anggota syirkah Al-Amin Grup. Di Bandung saya belum berhasil menemukan usaha yang membuka kesempatan kepada masyarakat untuk ikut serta bergabung menanamkan modalnya dengan sistem bagi hasil. Padahal di Bandung marak wirausaha Muslim.. Atau mungkin saya yang kurang gaul ya… J

Setelah sekian lama saya mencari pilihan yang tepat sebagai ladang investasi, saya berjumpa dengan artikel menarik seputar emas. Ini memang kelemahan saya, baru pada tahun 2011 saya mengetahui jenis investasi berupa emas. 4 tahun lebih duduk di bangku kuliah jurusan Manajemen tidak mesti menghasilkan seorang yang ahli di bidang bisnis dan investasi. Hmmh… Saya harus lebih banyak lagi membuka cakrawala informasi dan pengetahuan di dunia nyata.

Soal emas, saya lebih memilih dalam bentuk dinar, bukan perhiasan atau logam mulia. Faktor utamanya adalah ingin menjadi bagian orang-orang yang membumikan konsep dinar-dirham. Alhamdulillah beberapa anggota keluarga ikut juga memilih investasi dalam dinar.

Koin dinar emas adalah koin emas 22 karat (91,7%) dengan berat 4,25 gram yang dapat berfungsi sebagai alat investasi dan proteksi nilai kekayaan. sedangkan berat 1 Dirham adalah 2.975 gram.

"Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata ‘Saya mendengar penduduk bercerita tentang ‘Urwah, bahwa Nabi saw. memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau. Lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi SAW mendo’akannya dengan keberkahan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung.” (HR. Bukhari)

Sejak lebih dari 1400 tahun silam, harga seekor kambing berkisar antara 1 dinar. Saat ini (07/11) harga jual per 1 dinar sekitar 2,2 juta rupiah. Sementara harga 1 ekor kambing musim qurban kemarin (1433 H) mulai dari 1,8 – 2 juta rupiah.

Begitu pun kira-kira sekitar 12 tahun yang lalu, ketika harga 1 dinar berada di angka 260 ribu rupiah, harga satu ekor kambing sekitar 340 ribu atau sama dengan 1,27 dinar (sumber: tabel perbandingan harga 1 dinar dan 1 ekor kambing di http://blogger-coepoe.blogspot.com).

Saya memilih gerai dinar M-Dinar yang dipimpin oleh Muhaimin Iqbal, seorang praktisi keuangan yang memilih untuk mengembangkan konsep dinar sebagai solusi keuangan sekaligus penulis buku di bidang investasi dinar emas. Biografi lengkap Muhaimin Iqbal bisa dilihat di sini. Modal yang diinvestasikan oleh anggota M-Dinar dikelola sebagai modal usaha di peternakan kambing etawa miliknya. Peternakan ini terletak di Jonggol, dengan nama Jonggol Farm. Kawasan ini terbuka untuk umum, siapa saja boleh masuk dan melihat-lihat area peternakan yang juga digunakan sebagai sarana pembelajaran wirausaha pondok pesantren Daarul Muttaqiin – Jonggol. Berikut sekilas mengenai Jonggol Farm yang saya kutip langsung dari website resminya, www.jonggolfarm.com.

Jonggol Farm adalah metamorfosa dari kegiatan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin kelas eksekutif yang kemudian melahirkan serangkaian usaha-usaha pertanian dan peternakan dalam arti luas.

Pada usianya yang pertama, kegiatan Pesantren Wirausaha tersebut telah melahirkan konsep industrialisasi kambing untuk pemenuhan susu dan daging nasional. Pesantren ini pula sudah melahirkan konsep diversifikasi pangan dari jamur untuk target swasembada bahan pangan utama dalam jangka panjang.
Dalam usia yang relatif muda tersebut selain model peternakan yang telah melahirkan kambing-kambing juara, Pesantren ini pun telah berpikir jauh untuk membangun industri penunjangnya seperti pabrik kandang dengan bahan composites yang insya Allah menjadi yang pertama di Indonesia, konsep mini plant untuk pengolahan susu dan produk turunannya yang sudah didaftarkan dengan merek dagang Indolaban, konsep Planet Jamur, Planet Beku dan berbagai gagasan lainnya.

Kepada para anggota M-Dinar diberikan profit bagi hasil setiap bulan. Nilainya tidak seberapa, seperti besarnya bunga yang diperoleh nasabah di bank konvensional. Namun di rekening M-Dinar kita tidak dikenakan biaya administrasi dan rekening tidak akan ditutup walaupun tidak menambah deposito dalam kurun waktu yang cukup lama. Nilai deposit yang dimiliki di rekening M-Dinar dapat diuangkan sewaktu-waktu kita membutuhkan uang. Yang menarik tentu saja nilai emas akan terus naik. Saya ingat, ketika pertama membuka rekening M-Dinar di bulan April 2011, nilai 1 dinar kala itu berada di kisaran 1,6 juta rupiah, sementara hari ini (07/11/2012), nilai 1 dinar sudah melonjak menjadi 2,2 juta rupiah. Bandingkan jika kita menyimpan dana investasi kita di bank, setiap bulan dikenakan biaya administrasi dan nilainya cenderung turun.

Belakangan suami saya memilih jalan investasi emas di sebuah perusahaan pialang berjangka. Saya tidak mengerti soal permainan fluktuasi harga emas dsb, yang saya nilai adalah mengenai pertumbuhan harga emas untuk jangka panjang. Jadi, modal utama sebaiknya memang untuk menambah perputaran usaha yang kita jalankan, sedangkan sisa dana yang ada Anda bisa pilih untuk diinvestasikan di mana. Kalau saya, sepertinya belum terpikir untuk mencari bentuk investasi lain :)





Dalam berwirausaha setiap orang memiliki keputusan yang berbeda dalam mengelola modal usaha yang dimilikinya.   Ada yang keseluruhan...
Haryani Qonita Abidatullah Rabu, 07 November 2012
Go! Muslimpreneur

Manajemen Bisnis, Apa Itu?



Manajemen sebagai sebuah ilmu tentu tidak terbatas pada lingkup teori semata, tetapi mencakup praktek dalam dunia nyata. Istilah manajemen lazim disandangkan pada urusan bisnis - padahal untuk sekedar tahu saja - tidak hanya bisnis yang perlu di-manage (dikelola). Saat ini beberapa perguruan tinggi membuka program keilmuan manajemen untuk urusan pendidikan, rumah sakit dan lain-lain.

Di blog ini kita tidak akan membahas ilmu manajemen lain selain manajemen untuk bisnis. Apakah saya dalam hal ini termasuk orang yang kompeten menulis definisi dan paparan tentang manajemen bisnis? Bukan, tentu saja saya bukan orang yang tepat untuk menjabarkan panjang lebar tentang ilmu manajemen bisnis saat ini.

Tapi saya ingin sedikit berbagi, setidaknya ada 4 bidang yang perlu diperhatikan dalam menguasai manajemen bisnis, yaitu mengenai Operasional, Pemasaran, Keuangan dan Sumber Daya Manusia. Keempat bidang ini saling berkaitan satu sama lain.

Mengenai operasional yang pertama perlu diperhatikan adalah urusan produksi. Dalam menjalankan bisnis tidak harus memproduksi sendiri, tetapi bisa menggunakan jasa makloon (menggunakan jasa orang lain dalam memproduksi). Sebagai seorang wirausaha perlu dipikirkan apakah akan memproduksi sendiri barang dagangannya atau menggunakan jasa orang lain.

Suami saya adalah seorang ahli Bahasa, tapi dia memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Suatu saat terlintas dalam pikirannya untuk mengambil peluang dengan menjual penghemat bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Untuk konsep awal produk ia rancang sendiri, selebihnya diserahkan kepada orang lain yang sudah berpengalaman di bidang itu. Setelah mengamati dan ikut terjun dalam proses produksi, ia menyimpulkan sendiri bahwa pembuatan alat itu sebetulnya mudah. Hanya tinggal memasang komponen ini dan itu. Akhirnya ia putuskan untuk membuat bengkel kerja sendiri dengan satu orang tenaga ahli dan beberapa orang pekerja dengan tujuan untuk menghemat ongkos produksi.  Belanja alat-alat sendiri, memilih bahan baku pun sendiri, semuanya dilakukan demi menekan biaya dan meningkatkan profit. Apa yang terjadi, produk yang diciptakan tidak memiliki standar produk yang layak pakai. Padahal rasanya sudah dibuat persis sama seperti produk yang awal dibuat. Ini hanya sedikit cerita mengenai usaha yang pernah dijalankan oleh suami. Belajar dari pengalaman tadi kami akan lebih mempertimbangkan ketika kembali memasarkan suatu produk, apakah akan memproduksi sendiri atau menggunakan jasa orang lain.

Ketika kekuatan bisnis Anda terletak pada pemasarannya, sebaiknya urusan produksi diserahkan kepada orang lain. Namun jika memang Anda memiliki modal utama dalam bidang produksi, sebaiknya manfaatkan kekuatan tersebut dan carilah partner yang mampu memasarkan produk Anda kepada konsumen. 

Selanjutnya dalam bidang operasional yang perlu diperhatikan adalah pengecekan barang di dalam gudang. Ini jika usaha Anda berupa barang. Data mengenai perputaran produk di tempat penyimpanan barang (gudang atau stok di display) sangat penting untuk selalu diperbarui.

Bagaimana jika yang dijual adalah jasa? Pengalaman kami menjalankan bisnis travel umroh dan haji plus, sistem operasional yang perlu diperhatikan dalam bidang jasa adalah kejelasan fasilitas yang didapatkan oleh konsumen. Kami selalu berharap pengguna jasa kami merasa puas, menjadi percaya kepada kami dan memberikan rekomendasi yang baik kepada sanak famili maupun rekan-rekan mereka yang lain. Hal lain adalah aturan yang jelas perlu dibuat dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. Misalnya dalam pemberangkatan umroh/haji, kami membuat aturan mengenai pembayaran, pelunasan dan pembatalan.

Bidang yang selanjutnya adalah mengenai pemasaran. Seorang wirausaha harus sudah menentukan bentuk pemasaran untuk produk/jasa yang akan ditawarkan kepada konsumen. Suami saya adalah seorang wirausaha sekaligus marketer yang handal (penilaian seorang istri :) ). Kelebihan suami saya adalah mampu membuat orang lain terkesima mendengarkan penjelasannya. Saya yakin banyak orang yang juga seperti suami saya, menggunakan the power of mouth to mouth dalam memasarkan produk/jasanya. Selain itu, saya dengan minat saya sendiri berupaya mempromosikan usaha kami lewat dunia internet. Cobalah masuk ke situs penjualan seperti Indonetwork, Tokobagus, Kaskus dan jangan remehkan kekuatan blog gratisan... Seperti yang saya kelola saat ini, http://backpacker-umroh.blogspot.com

Bidang yang kami geluti saat ini adalah herbal, beberapa kali kami mengadakan bakti sosial pengobatan cara Nabi SAW (Thibun Nabawi) sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat (istilah marketing-nya CSR ya….). Selain itu kami mendirikan Institut Ketabiban Herbal untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin mempelajari Thibun Nabawi, terutama bekam dan ruqyah. Selain itu juga kiropraksi, pijat bayi, akupuntur, iridologi dan acupressure. Selain itu kami bekerjasama dengan Yayasan yang dikelola oleh suami sendiri dalam menjalankan program peduli 1000 yatim.

Kemudian yang perlu dipikirkan adalah mengenai keuangan. Arus kas masuk dan keluar sangat penting untuk dicatat harian. Sementara dalam periode 1 sampai 3 bulan minimal perlu dibuat neraca dan laporan laba guna mengetahu perkembangan usaha. Saya membantu suami membuat laporan keuangan sederhana, kami tidak melibatkan diri pada permodalan dari bank untuk saat ini, mudah-mudahan untuk selanjutnya bisa mandiri.

Hal yang terakhir adalah mengenai sumber daya manusia. Dalam menentukan siapa di posisi apa tentu masing-masing orang memiliki pertimbangannya sendiri. Kami, sejauh ini berupaya untuk tidak menilai orang hanya sekedar dari latar belakang pendidikannya. Kami menerima seorang pekerja dengan latar belakang pendidikan SMP sebagai office boy dengan gaji hanya Rp 600.000,00 dengan peraturan ketat dalam menjaga kantor. Kemudian dengan kegigihannya pekerja kami ini bekerja dengan sangat baik. Berkat kejujurannya kami mempercayakan kepadanya posisi Supervisor untuk saat ini dengan gaji yang jauh lebih baik. Sementara beberapa kali pekerja dengan latar belakang Sarjana tidak serius dalam menjalani kontrak kerja.

Semua bidang yang perlu dikelola dalam sebuah bisnis merupakan satu kesatuan. Keputusan mengenai operasional akan mempengaruhi pola keuangan dan keputusan dalam meng-hire pekerja (SDM). Keputusan mengenai pemasaran akan mempengaruhi pola keuangan dan juga persoalan SDM. Keputusan mengenai keuangan mempengaruhi persoalan SDM dan mengenai SDM mempengaruhi keputusan mengenai keuangan. Setidaknya itu yang dapat saya simpulkan dari hasil pengamatan saya secara pribadi.

Siapa sangka sahabat saya yang pendiam itu kini menyelam lebih dalam lagi di dunia Manajemen Bisnis di sebuah PTN di Kota Kembang. Cita-citanya adalah menjadi dosen di bidang ilmu Manajemen Bisnis. Suatu saat saya akan mengajaknya berdiskusi lebih serius mengenai Manajemen Bisnis. 

Manajemen sebagai sebuah ilmu tentu tidak terbatas pada lingkup teori semata, tetapi mencakup praktek dalam dunia nyata. Istilah manaj...
Haryani Qonita Abidatullah Selasa, 06 November 2012