Inspirasi Wirausaha Muslim

Di blog ini, penulis mengajak sesama Muslim untuk saling berbagi, menginspirasi dan menyemangati dalam meraih cita-cita terutama di bidang wirausaha membangun perekonomian yang sesuai dengan syariat.
Menu
Go! Muslimpreneur

Optimis !



Sikap optimis, saya rasa dibutuhkan bukan hanya oleh seorang entrepreneur. Semua orang, apapun profesinya, dalam hal kebaikan harus selalu optimis.



Saya telah menyaksikan beberapa orang teman memperoleh kemenangan dari hasil sikap optimis selama menggapai yang dicita-citakan. Saya salut dengan mereka, karena untuk bisa selalu bersikap optimis tidak mudah. Saya sendiri sempat mengalami keterpurukan ketika gambaran masa depan tidak nampak secara jelas.

Beberapa bulan menjelang sidang skripsi saya bergabung sebagai relawan koperasi desa tempat saya tinggal.  Niat awal sekedar mencari kegiatan, karena di kampus hanya tinggal bimbingan skripsi dan sudah lepas dari organisasi kemahasiswaan. Ternyata walau kedudukan saya hanya sebagai relawan di sana, saya diberikan insentif. Jumlahnya tidak banyak, hanya 225 ribu per bulan. Namun dalam hati selalu mengharapkan jatah di setiap awal bulan. Uangnya bisa saya pergunakan untuk ongkos bolak-balik hunting sumber rujukan di beberapa perpustakan untuk bahan menyusun skripsi saya, begitu pikiran saya. Saya pun tidak masalah ketika harus potong gaji lantaran uang koperasi hilang entah kemana, pernah hilang 50 ribu, pernah juga hilang 100 ribu. Ukuran yang besar untuk saya. Saya tidak mengerti, memang banyak yang bilang di desa saya banyak yang menjalankan praktek berbau klenik. Saya sedang futur waktu itu, jadi mungkin penjagaan dirinya kurang.

Bidang kegiatan saya adalah keuangan, adapun job desc saya kala itu adalah menjadi asisten Unit Pelaksana Keuangan untuk urusan administrasi pembukuan. Sehari-harinya saya bertugas stand by di kantor koperasi sesuai jadwal yang diberikan. Dalam 1 minggu, saya diberikan jadwal piket 3 hari, masuk jam 8 dan pulang jam 1 siang.

Yang saya kerjakan begitu datang di pagi hari adalah membersihkan ruangan dan menyiapkan pemberkasan yang diperlukan untuk mencatat transaksi keuangan yang terjadi selama hari itu. Selama 5 jam, pekerjaan saya hanya menunggu anggota koperasi yang akan menyetor angsuran pinjaman atau yang mau menabung di koperasi.

Ketika ada transaksi, saya membuatkan slip masuk dan dicatat di cash flow harian. Ini menarik, karena saya belajar beberapa hal penting mengenai pembukuan di sini. Selama saya mempelajari akuntansi di SMEA dan beberapa SKS di bangku kuliah tidak mendapatkan praktek pembukuan sederhana yang efektif dan efisien. Sebenarnya saya menikmati pekerjaan saya. Namun lama kelamaan saya merasa jenuh. Ketika kantor sepi, saya hanya bertemankan komputer. Iseng-iseng menulis puisi sambil diiringi lagu-lagu Ebiet Biet A yang diputar berulang-ulang. Atau nge-game.….

Ketika datang jadwal rapat antar tokoh koperasi, saya senang karena terlihat antusiasme warga untuk hadir dan berpartisipasi. Saya tidak ada pikiran apa-apa. Saya senang saja ketika tahu kalau ada rapat para anggota rapat diberi insentif per orang 50 ribu.

Saya juga senang ketika ada pekerjaan tambahan seperti menyusun proposal ketika pemerintah akan mengeluarkan dana pengembangan di setiap desa. Saya tidak memikirkan apakah pekerjaan ini menguntungkan atau tidak, yang penting saya bisa membantu. Itu saja… Tapi, ketika dijanjikan bahwa kelak ketika dana dari pemerintah cair saya akan diberi insentif tambahan untuk pekerjaan-pekerjaan yang saya kerjakan, saya senang. Dan tentu saja berharap saya akan mendapatkan persenan lebih banyak daripada anggota lain, karena memang saya mengerjakan beberapa hal penting sendirian.

Dan ternyata saya terlalu muluk.  Pekerjaan yang saya kerjakan yang menurut saya paling banyak itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan pekerjaan para tokoh masyarakat dalam menggalang kebersamaan masyarakat menggarap proyek pemerintah di lapangan. Walaupun saya tidak melihat kerasnya usaha mereka dalam mempersiapkan semuanya. Mungkin saat itu saya terlalu banyak berpikiran negatif, tapi saya syukuri saja, karena niat awalnya hanya untuk membantu… Tidak mengapa, Alhamdulillah jadi punya tambahan, lagi-lagi demi ongkos penyusunan skripsi.

Ketika ujian sidang sudah dekat, saya rasa saya harus lebih fokus mengurusi skripsi saya. Saya tidak ingin terlalu terlibat di koperasi desa, karena entah mengapa saya merasa terlalu diandalkan, jadi lama kelamaan menjadi beban. Ini tidak baik, karena pasti ke depannya saya akan merasa tidak nyaman. Saya putuskan untuk mengundurkan diri. Walaupun sebenarnya saya masih memerlukan tambahan pemasukan untuk menyelesaikan skripsi saya.

Tiba sidang skripsi saya bersyukur mendapatkan IPK tertinggi di antara teman-teman satu program studi. Bahkan untuk satu jurusan. Tapi saya sedih karena IPK saya sebetulnya turun, harusnya kalau sidangnya bisa lebih bagus nilai IPK saya bisa lebih tinggi lagi, mungkin bisa tertinggi se-kampus. Saya akui, sebenarnya saya kurang sungguh-sungguh dalam bersyukur… Saya masih menyesal karena terlalu idealis dalam menyusun skripsi sehingga tidak memperhatikan benar teori apa saja yang saya kutip di skripsi saya. Bayangkan, untuk mendefinisikan 1 istilah saja saya mengambil teori dari beberapa buku. Saking banyaknya, saya bahkan tidak ingat untuk menghapal satu di antaranya. Saya berpikir ketika presentasi sidang, saya akan banyak membuka skripsi, tapi ternyata ketika sidang saya diminta untuk menutup skripsi saya dan diberi waktu presentasi hanya sekitar 5 menit, tanpa penjelasan bertele-tele. Yang ada semua blank, 6 bulan bolak-balik perpustakaan hasilnya jauh dari memuaskan. Saya hanya memperoleh nilai B untuk skripsi saya, padahal saya berharap nilainya A, kalau bisa A+, hehe.  Saya PD karena banyak rujukan yang saya kutip, judulnya pun up to date dan skripsinya tipis. Tapi ya bagaimana lagi, seorang calon sarjana S1 harus mengalah di hadapan para doktor dan kandidat doktor. Ketika hasilnya diumumkan saya menangis, bukan menangis terharu, tapi menangis sedih, saya teringat perjuangan ketika menyusun skripsi. Ibunda yang paling saya ingat, beliau menjadi sponsor utama dalam penyusunan skripsi saya.

Semua segera berlalu. Sampai tiba hari wisuda, saya tidak begitu gembira. Baju toga baru saya terima di hari H. Ngga semangat ikut gladi resik. Hari itu pun bagi saya biasa saja. Lagi-lagi saya tidak bersungguh-sungguh dalam bersyukur.

Selepas wisuda saya ditawari oleh seorang sahabat kakak saya untuk bekerja di pabrik tekstil dekat dengan rumah sebagai staff keuangan. Katanya gaji awalnya sekitar 2/3 juta. Saya tahu saya tidak akan tertarik. Tapi saya tidak enak untuk menolak, akhirnya saya datang untuk wawancara. Yang membuat saya sakit hati adalah sikap cuek dari orang yang katanya adalah bagian HRD itu. Ogah-ogahan ketika mewawancara. Dan dia memberitahu bahwa setiap yang bekerja di sana harus mengikuti semua aturan yang sudah dibuat. Termasuk tidak boleh mengenakan rok bagi perempuan. Saat itu saya mengenakan gamis. Saya bingung dan sedih. Saya berjanji untuk tidak menerima tawaran bekerja di sana. Berapapun besar gaji yang diberikan dan betapapun besar peluang untuk bisa diterima.

Setelah itu saya mencari informasi lowongan kerja di Koran daerah setiap hari Sabtu. Saya juga masukkan lamaran ke tempat-tempat yang membuka lowongan. Sempat saya dipanggil oleh sebuah radio swasta di Bandung untuk menjadi staff riset. Saya menjalani tes tulis, tapi tidak sampai wawancara. Mungkin saya memang tidak bakat jadi pe-riset. Saya juga pernah interview di sebuah perusahaan kontraktor, tapi tidak sampai diterima bekerja. Juga pernah meminta untuk dimasukkan lamaran sebagai dosen di sebuah PTS di Bandung ke salah seorang dosen yang mengajar di sana. Tapi gayung tidak bersambut. Saya juga yang bodoh, karena berharap pada orang yang tidak dikenal. Dan memang saya punya kelebihan apa sehingga begitu PD nya mengajukan lamaran menjadi dosen di sebuah PTS terkenal. Apalagi orang yang saya minta rekomendasinya itu punya juga anak yang baru lulus kuliah tapi tidak bisa dengan mudah melamar menjadi dosen. Saya jadi sedih, tapi tidak patah arang. Terus saya berusaha mencari peluang.

Sampai suatu hari saya diminta datang untuk presentasi dan wawancara di sebuah universitas swasta baru di Bandung. Saya senang bukan main. Tapi saya tidak tahu tema apa yang akan saya angkat sebagai bahan presentasi saya. Jam 3 dini hari saya putuskan memilih tema tentang membangun bisnis. Saya anggap tema ini paling mudah. Saya ambil bahan-bahannya dari buku Menggagas Bisnis Islami karya M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijaya.

Ketika diberikan pilihan akan mengajar mata kuliah apa, saya pilih di antaranya adalah Manajemen, Entreprenurship, Innovation and Creativity dan beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan Manajemen. Saya buka presentasi dengan sederhana, dan saya berusaha untuk tampil percaya diri.

Baru setelah sekitar 1 bulan saya dipanggil untuk mengajar. Saya hampir putus asa karena dijanjikan hanya menunggu kabar selama 3 hari, ternyata perlu waktu sampai 1 bulan kemudian. Tidak ada kontrak, saya diangkat menjadi tenaga pengajar part time..

Hari pertama saya berusaha untuk tidak nervous. Saya yakinkan kalau saya mampu menerima amanah ini. Yang membuat saya merasa kurang percaya diri yaitu ketika harus mengajar kelas karyawan yang mahasiswanya terdiri dari mayoritas bapak-bapak yang usianya jauh di atas saya. Saya hanya bisa menyampaikan teori. Karena secara praktek saya masih minim ilmu. Seharusnya saya lah yang banyak belajar dari mereka. Alhamdulillah mereka mau membantu saya. Saya pikir, seandainya universitas tersebut punya sedikit kemampuan meng-hire tenaga dosen yang sesuai pasti lah tidak akan merekrut saya sebagai tenaga pengajar J. Saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan.

Di semester kedua saya diberi amanah mengajar satu kelas yang sepengetahuan saya terdiri dari anak-anak muda yang sudah berpengalaman di dunia entrepreneur. Ketika saya masuk di kelas lain saya PD saja walaupun sering tidak dihiraukan lantaran kebanyakan jurusan yang saya pegang itu jurusan teknik yang mayoritas adalah mahasiswa dan mereka tidak cenderung untuk mempelajari ilmu entreprenurship. Tapi di kelas yang satu ini saya merasa sedikit minder.

Saya tidak membiarkan rasa minder mendominasi pikiran saya, karena sambil mengajar saya terus mencari-cari informasi mengenai seminar-seminar seputar bisnis. Saya yakin saya bisa. Sebenarnya saya berharap memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi saya, namun kesempatannya belum ada. Dan saya sedih karena kegiatan-kegiatan yang saya ikuti kebanyakan adalah gratis, sementara yang bayar saya tidak bisa ikut karena keterbatasan dana. Saya dibayar per SKS. Untuk menambah uang bulanan saya memutuskan untuk bekerja di tempat lain.  Saya melamar ke playgroup, ke universitas swasta lain dan terakhir ke lembaga kursus komputer. Di tempat terakhir ini saya diterima mengajar. Upahnya pun tidak seberapa. Dihitung per jam mengajar. Tapi saya menikmatinya, karena ambisi saya memang menguasai ilmu komputer, walaupun untuk materi yang paling mudah.

Mungkin kalau teman-teman saya tahu saya digaji sangat kecil, mereka akan heran mengapa saya mau menerima pekerjaan-pekerjaan itu. Saya pun tidak tahu mengapa saya begitu bahagia menjadi tenaga part timer. Saya bersyukur bisa mengajar di sebuah PTS. Saya melihatnya sebagai peluang. Entah peluang apa. Karena saya juga punya teman yang sama-sama menjadi dosen di PTS. Tapi profesinya sebagai dosen hanya sebagai sambilan. Pekerjaan utamanya adalah mengajar anak-anak di lembaga kursus. Dari tempat mengajar kursus dia menerima gaji lebih besar. Menurut saya dia tidak melihat kesempatan mengajar di PTS sebagai sebuah peluang yang berarti.  Mungkin karena terikat kontrak dengan lembaga kursus tempat dia mengajar, jadi dia tidak bisa mengutamakan pekerjaannya mengajar di PTS.

Saya berpikir pengalaman saya mengajar bisa dijadikan bekal mengajukan beasiswa S2. Saya sempat underestimate ketika seorang teman mengatakan dia bahkan sudah pernah berjumpa dengan pemilik universitas tempat saya mengajar. Saya merasa terlalu keras berjuang di kelas ecek-ecek. Tapi saya tidak punya pilihan yang lebih baik dari apa yang sedang saya kerjakan. Saya menjadi part-timer yang bebas. Dan saya tidak terikat kontrak.

Karena satu sebab, saya memutuskan untuk berhenti mengajar kursus komputer. Praktis penghasilan pun berkurang. Saya mengajukan beasiswa. Tapi belum berhasil.

Suatu saat kampus tempat saya mengajar mengajukan akreditasi. Tim akreditasi PTS datang ke kampus untuk memberi penilaian. Saya diundang untuk hadir sebagai perwakilan dosen mata kuliah entrepreneurship. Saya hanya bisa tersenyum, di antara dosen-dosen yang hadir saat itu, saya lah yang masih bau kencur. Saya berharap bisa segera melanjutkan S2.

Setelah masa 2 semester mengajar, saya ditawari untuk menjadi tenaga pengajar tetap. Saya senang bukan main. Tapi ada syarat, katanya saya harus terlebih dahulu melanjutkan studi. Saya bilang saja saya memang sedang mengajukan beasiswa, mudah-mudahan diterima.

Saya tidak yakin, apakah saya benar-benar akan mendapatkan beasiswa S2. Sampai ada peluang mengajar di sebuah yayasan di Bogor. Saya yakin di sana adalah jalan saya mengabdikan diri lebih jauh.

Sebetulnya tidak ada yang benar-benar saya sukai dari tempat mengajar saya yang baru kecuali satu hal, yaitu kesempatan menghafal al-Qur’an, yang tidak saya dapatkan selama ini. Ketika didaftarkan kuliah S2 dengan biaya dari yayasan saya tidak terlalu senang, karena sebenarnya saya sangat ingin melanjutkan kuliah setidaknya di universitas negeri, kalau tidak ke luar negeri, lebih keren…. Karena biayanya dari yayasan, saya tidak bisa menentukan sendiri di mana saya akan melanjutkan kuliah.

Setelah beberapa waktu saya baru tersadar, selama ini saya hanya mengejar ilmu dunia. Tidak sempat mempelajari ilmu al-Qur’an. Betapa malunya saya.

Saya tidak lagi berambisi untuk S2 untuk sementara waktu. Setelah menikah saya fokus membantu usaha suami. Waktunya saya mempraktekkan ilmu yang sudah saya pelajari semasa kuliah. Menyusun laporan keuangan, mengatur standar operasi kerja, membuat surat kontrak dan lain sebagainya.

Saya belajar banyak dari pekerjaan saya ini. Dan saya banyak mengamati kegiatan suami saya. Suami saya merintis usahanya dari nol. Latar belakang pendidikannya adalah Bahasa Arab. Sebelumnya sempat juga menjadi santri pondok pesantren tahfidz, pondok pesantren khusus program menghafal al-Qur’an. Untuk ilmu agama insyaAllah beliau dapat diandalkan. Dalam mencari nafkah awalnya beliau mengajar, tapi jiwa bisnisnya lebih kuat, sehingga sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu beliau memutuskan membangun sebuah perusahaan.

Perusahaan yang dibangun hanya bertahan beberapa tahun, setelah itu beliau putuskan menjalankan usaha milik orang lain. Baru setelah kami menikah beliau membuka kembali aktivitas korporasinya yang sempat vakum.

Di tengah kesibukan saya, saya jadi teringat kembali impian melanjutkan studi. Betapa tidak, setiap hal yang saya kerjakan berkaitan dengan ilmu manajemen yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya berpikir akan meneruskan mimpi melanjutkan S2.

Tidak banyak yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Saya memanfaatkan betul fasilitas internet yang ada di kantor. Dan saya pun sudah punya modem. Setiap saat saya online. Saya mencari informasi tentang ini dan itu. Saya jadi ingin punya toko online untuk berjualan. Karena saya tahu, saya tidak mungkin berjualan seperti saat saya kuliah dulu. Saya tidak mungkin lagi menawarkan barang dagangan ke teman-teman saya, karena untuk bisa pergi keluar rumah saya harus ditemani mahram.

Dan saya terinspirasi oleh Khadijah ra, pebisnis perempuan yang menjalankan usahanya dari rumah. Khadijah ra mengutus Maisarah untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Setelah itu meminta Rasulullah SAW yang kala itu belum menjadi suaminya untuk menjadi pimpinan kafilah dagangnya.

Saya melihat-lihat beberapa toko online. Saya minder. Karena tidak punya ilmu sama sekali untuk berjualan di internet. Yang saya punya adalah ilmu membuat blog sederhana yang diajarkan oleh sahabat saya. Akhirnya saya buat blog sederhana sebagai toko pertama saya. Saya tidak yakin akan ada pengunjung. Beberapa bulan kemudian datang pelanggan pertama. Setelah itu hampir tidak ada yang berkunjung.

Di penghujung tahun 2011 saya memutuskan untuk membeli domain dan membuat toko online betulan. Saya begadang hampir setiap malam. Saya minta rekomendasi nama. Suami saya mengusulkan www.grosirherbalsunnah.com, dan sekarang website itu sudah masuk tahun ke-2.

Kemudian beberapa bulan setelahnya saya membuat toko online kedua, menjual jasa travel umroh. Di toko saya yang kedua saya fokus menjual paket umroh hemat. Paket itikaf Ramadhan tanpa makan. Murah meriah. Ini alamatnya http://backpacker-umroh.blogspot.com.

Kalau saya flash back, saya suka senyum-senyum sendiri. Tidak akan pernah mengira saya akan menjadi seorang penjual online. Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Dan saya optimis saya bisa memperoleh peluang untuk mengembangkan kemampuan saya. Meskipun jalannya berliku, tapi saya senang dengan semua yang sudah saya peroleh saat ini. Tinggal ke depannya saya akan mengatur untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi.

Saya amati penjual herbal online sudah menjamur. Saya sendiri adalah pemain baru. Tapi saya optimis. Saya menjalankan bisnis ini dengan berbekal sedikit pengetahuan mengenai keutamaan herbal dan pengobatan cara Nabi SAW.

Untuk umroh, saya melihat sekian banyak travel menjual jasa umroh. Tapi hanya beberapa yang menawarkan paket backpacker. Saya berharap program ini bisa berjalan dengan baik. Saya optimis bisa merebut pasar umroh hemat. Setelah umroh pertama, saya merasa rindu untuk dapat kembali ke sana. Ini bukan hal yang aneh, karena setiap peziarah al haramain pastilah pulang ke tanah air dengan memendam rasa rindu untuk bisa kembali berziarah ke sana. Berbekal rasa rindu itu saya berusaha agar dapat berangkat lagi ke sana. Orang pasti akan berkata, suami saya akan segera memberikan jatah untuk pergi kesana, karena suami saya adalah pemilik travel. Tapi usaha kami ini tergolong masih baru. Dan saya tidak ingin menunggu terlalu lama untuk diberangkatkan dengan gratis. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.

Saya sangat yakin, ketika seseorang bersungguh-sungguh dalam kebaikan Allah SWT pasti akan membukakan kemudahan dari arah yang Ia kehendaki.


4 komentar

  1. it's oke...,,terus berkarya dan berkarya terus...,,,

    BalasHapus
  2. Menginpirasi mba, Nice, thanks sharingnya :), jadi semangat lagi nie :)

    BalasHapus
  3. terimakasih semuanya.. mohon maaf ngga bisa reply di masing2 komentarnya ya.. entah kenapa ini apa ada masalah dgn laptopnya.. hehe.. terimakasih pak sulhan wafa, pulsa murah, anonim.. maaf baru sempat dicek2 lagi.. ngga nyangka bakal banyak banget yg komen.. seneng banget.. tadi hampir aja lupa masuk ke area dashboard blog ini.. hehe.. maafkan yahh ^_^

    BalasHapus